-->

Pemulihan Layanan Telekomunikasi Pasca-Bencana di Sumatera Dipercepat, 52 Persen BTS Aceh Sudah Aktif

 

Pemulihan layanan telekomunikasi pasca-bencana di Sumatera dipercepat, 52 persen BTS Aceh aktif, pemerintah siapkan Starlink gratis.

Layanan Telekomunikasi

Unras.com | Banda Aceh – Pemerintah mempercepat pemulihan layanan telekomunikasi pasca-bencana di Sumatera setelah banjir dan longsor melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Upaya ini difokuskan pada wilayah Aceh yang mengalami gangguan jaringan paling parah akibat putusnya pasokan listrik dan rusaknya infrastruktur telekomunikasi.
Kolaborasi lintas sektor dilakukan agar komunikasi publik kembali normal dan mendukung penanganan darurat di daerah terdampak.

Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital menggandeng seluruh operator seluler nasional untuk mempercepat pemulihan layanan telekomunikasi pasca-bencana di Pulau Sumatera. Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menegaskan bahwa kerja bersama ini menjadi prioritas utama di masa tanggap darurat.

Dalam keterangan pers di Jakarta, Nezar menyebut bahwa gangguan layanan di Provinsi Aceh menjadi perhatian khusus karena banjir besar menyebabkan pemadaman listrik dan kerusakan pada infrastruktur jaringan. Kondisi tersebut membuat sebagian wilayah terisolasi secara komunikasi.

Pemulihan layanan telekomunikasi pasca-bencana dinilai krusial, bukan hanya untuk aktivitas masyarakat, tetapi juga untuk mendukung proses evakuasi, distribusi bantuan, pelayanan kesehatan, hingga pelaporan data korban dan kondisi wilayah terdampak.

Fokus Pemulihan Jaringan di Wilayah Aceh

Nezar Patria memimpin rapat koordinasi di Balai Monitor Spektrum Frekuensi Radio Kelas II Banda Aceh pada Rabu (03/12/2025). Dalam rapat itu, pemerintah menegaskan komitmen mempercepat pemulihan layanan telekomunikasi pasca-bencana di Aceh.

“Di antara provinsi terdampak di Sumatera, Aceh mengalami gangguan paling parah. Kita semua bergotong royong untuk memulihkan keadaan dan berharap semua bisa memberikan simpatinya yang tinggi kepada sesama,” kata Nezar.

Ia menjelaskan bahwa prioritas utama pemerintah saat ini adalah memastikan jaringan komunikasi kembali berfungsi agar aktivitas tanggap darurat berjalan lancar. Tanpa koneksi yang memadai, proses penyelamatan dan distribusi bantuan akan terhambat.

Pemulihan jaringan telekomunikasi juga dianggap sebagai fondasi penting untuk menggerakkan kembali roda ekonomi masyarakat pasca-bencana. Akses komunikasi yang stabil akan memudahkan koordinasi antarinstansi dan relawan di lapangan.

Progres Aktivasi BTS Capai 52 Persen

Berdasarkan data pemerintah per 5 Desember 2025, sebanyak 1.789 base transceiver station (BTS) atau sekitar 52,4 persen dari total 3.414 BTS di Provinsi Aceh telah kembali aktif. Angka ini menunjukkan kemajuan signifikan dalam pemulihan layanan telekomunikasi pasca-bencana.

Nezar menyebut bahwa persentase BTS aktif berpotensi meningkat hingga sekitar 75 persen seiring dengan pulihnya pasokan listrik di sejumlah wilayah. Menurutnya, kendala utama yang masih dihadapi adalah terbatasnya energi listrik untuk mengoperasikan perangkat jaringan.

“Mudah-mudahan pekan ini bisa pulih seperti sediakala. Karena kendala yang kami temukan masih seperti pada hari-hari sebelumnya, yaitu berupa energi listrik,” ujar Nezar.

Ia menambahkan bahwa pemerintah bersama operator seluler terus memantau perkembangan pemulihan jaringan secara berkala. Laporan perbaikan jaringan diterima setiap hari, bahkan jam per jam, untuk memastikan respons cepat terhadap kendala di lapangan.

Koordinasi Intensif dengan Operator Seluler

Kementerian Komunikasi dan Digital bekerja erat dengan seluruh operator seluler nasional dalam mempercepat pemulihan layanan telekomunikasi pasca-bencana. Setiap operator diminta mengerahkan sumber daya terbaiknya, termasuk teknisi lapangan dan peralatan cadangan.

Nezar menegaskan bahwa sinergi antara pemerintah dan sektor swasta menjadi kunci dalam situasi darurat seperti ini. Tanpa kerja sama yang solid, proses pemulihan jaringan akan memakan waktu lebih lama.

“Kami memantau upaya pemulihan jaringan telekomunikasi di bagian Pulau Sumatera yang terdampak bencana alam. Laporan perkembangannya setiap hari, bahkan juga jam per jam bagaimana perbaikan telekomunikasi itu dilaporkan,” katanya.

Koordinasi ini tidak hanya mencakup perbaikan BTS yang rusak, tetapi juga pengaturan ulang spektrum frekuensi jika diperlukan. Tujuannya agar kualitas layanan tetap terjaga meskipun infrastruktur belum sepenuhnya pulih.

Starlink Jadi Solusi Darurat di Daerah Terisolasi

Untuk mendukung penyediaan layanan telekomunikasi di daerah yang masih terisolasi, Kementerian Komunikasi dan Digital menyediakan perangkat komunikasi berbasis satelit Starlink. Perangkat ini dilengkapi dengan genset sebagai sumber energi sementara.

Starlink digunakan sebagai sistem penyangga pelayanan komunikasi publik ketika layanan telekomunikasi dan pasokan listrik belum sepenuhnya pulih. Dengan teknologi satelit, koneksi internet tetap dapat diakses meskipun jaringan darat mengalami gangguan.

Nezar menjelaskan bahwa perangkat komunikasi darurat tersebut diberikan secara gratis kepada wilayah terdampak. Langkah ini diharapkan dapat mempercepat pemulihan layanan telekomunikasi pasca-bencana dan menjaga kelancaran komunikasi di masa kritis.

Penyediaan Starlink difokuskan untuk mendukung beberapa kebutuhan utama, antara lain:

  • Evakuasi korban bencana.

  • Distribusi bantuan logistik.

  • Pelayanan kesehatan darurat.

  • Pelaporan data korban dan kondisi wilayah.

Dengan adanya akses komunikasi yang stabil, koordinasi antarinstansi dan relawan menjadi lebih efektif.

Peran PLN dalam Pemulihan Listrik

Salah satu faktor kunci dalam pemulihan layanan telekomunikasi pasca-bencana adalah ketersediaan pasokan listrik. Banyak BTS tidak dapat beroperasi optimal karena jaringan listrik masih terputus di sejumlah wilayah.

Kementerian Komunikasi dan Digital terus berkoordinasi dengan PT PLN (Persero) serta instansi terkait lainnya untuk mempercepat pemulihan listrik. Nezar menyebut bahwa PLN menargetkan pemulihan pasokan listrik secara bertahap.

“PLN mengatakan Jumat mudah-mudahan listrik bisa pulih kembali, ini akan mempercepat kerja kita untuk memulihkan jaringan telekomunikasi di Aceh,” ujar Nezar.

Pemulihan listrik diharapkan dapat mendorong peningkatan jumlah BTS aktif hingga 75 persen dalam waktu dekat. Dengan demikian, kualitas layanan komunikasi di wilayah terdampak dapat kembali mendekati normal.

Dampak Positif bagi Masyarakat dan Tanggap Darurat

Percepatan pemulihan layanan telekomunikasi pasca-bencana membawa dampak positif bagi masyarakat terdampak. Akses komunikasi yang kembali tersedia memungkinkan warga menghubungi keluarga, mengakses informasi, dan menerima bantuan dengan lebih cepat.

Bagi tim tanggap darurat, jaringan komunikasi yang stabil sangat penting untuk koordinasi operasi di lapangan. Informasi mengenai kondisi korban, kebutuhan logistik, dan situasi wilayah dapat disampaikan secara real-time.

Pemulihan jaringan juga membantu mengurangi kepanikan di masyarakat. Ketika informasi dapat diakses dengan mudah, potensi penyebaran hoaks dan informasi keliru dapat ditekan.

Selain itu, kembalinya layanan telekomunikasi mendukung aktivitas ekonomi lokal. Pelaku usaha kecil dapat kembali berkomunikasi dengan pelanggan dan pemasok, sehingga proses pemulihan ekonomi pasca-bencana berjalan lebih cepat.

Komitmen Pemerintah untuk Pemulihan Berkelanjutan

Pemerintah menegaskan komitmennya untuk terus mempercepat pemulihan layanan telekomunikasi pasca-bencana hingga seluruh wilayah terdampak kembali terhubung. Upaya ini tidak hanya bersifat jangka pendek, tetapi juga mencakup langkah-langkah mitigasi untuk menghadapi bencana serupa di masa depan.

Kementerian Komunikasi dan Digital berencana memperkuat infrastruktur jaringan di wilayah rawan bencana. Tujuannya agar gangguan layanan dapat diminimalkan jika terjadi bencana alam di kemudian hari.

Nezar menegaskan bahwa gotong royong menjadi semangat utama dalam proses pemulihan ini. Pemerintah, operator seluler, PLN, dan masyarakat diharapkan terus bersinergi demi mempercepat normalisasi layanan.

Kesimpulan

Pemulihan layanan telekomunikasi pasca-bencana di Sumatera menunjukkan progres signifikan, khususnya di Aceh dengan lebih dari 52 persen BTS telah aktif. Pemerintah bersama operator seluler dan PLN terus bekerja keras untuk meningkatkan angka tersebut hingga 75 persen dalam waktu dekat.

Penyediaan perangkat Starlink gratis menjadi solusi darurat yang efektif untuk menjaga konektivitas di daerah terisolasi. Langkah ini mendukung evakuasi, distribusi bantuan, pelayanan kesehatan, dan pelaporan data korban.

Dengan koordinasi intensif lintas sektor, diharapkan seluruh wilayah terdampak dapat segera kembali terhubung. Pemulihan jaringan komunikasi bukan hanya soal teknologi, tetapi juga tentang memulihkan harapan dan aktivitas masyarakat pasca-bencana.

FAQ Pemulihan Layanan Telekomunikasi Pasca-Bencana (Versi Tabel)

PertanyaanJawaban
Apa itu pemulihan layanan telekomunikasi pasca-bencana?Proses memperbaiki dan mengaktifkan kembali jaringan komunikasi yang rusak akibat bencana alam.
Wilayah mana yang paling terdampak?Provinsi Aceh mengalami gangguan paling parah dibanding Sumatera Utara dan Sumatera Barat.
Berapa persen BTS Aceh yang sudah aktif?Sekitar 52,4 persen atau 1.789 BTS per 5 Desember 2025.
Apa kendala utama pemulihan jaringan?Putusnya pasokan listrik dan kerusakan infrastruktur telekomunikasi.
Apa peran Starlink dalam pemulihan?Menyediakan koneksi internet darurat di daerah terisolasi.
Apakah perangkat Starlink berbayar?Tidak, perangkat komunikasi darurat diberikan secara gratis.
Siapa saja yang terlibat dalam pemulihan?Kementerian Komunikasi dan Digital, operator seluler, PLN, dan instansi terkait.
Kapan layanan diperkirakan pulih normal?Bertahap dalam pekan ini seiring pulihnya pasokan listrik.
Mengapa pemulihan telekomunikasi penting?Untuk mendukung evakuasi, distribusi bantuan, dan aktivitas masyarakat.
Apa langkah jangka panjang pemerintah?Memperkuat infrastruktur jaringan di wilayah rawan bencana.