Rupiah Rebound Setelah Sempat Tertekan Perdagangan Sebelumnya
Unras.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah kembali menguat terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Rabu (25/2/2026). Penguatan nilai tukar rupiah ini terjadi setelah sebelumnya mata uang Garuda sempat tertekan pada sesi perdagangan sebelumnya. -
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah terapresiasi 0,17% atau naik 29 poin ke level Rp16.800 per dolar AS. Sehari sebelumnya, kurs rupiah ditutup melemah 27 poin ke posisi Rp16.829 per dolar AS.
Sementara itu, indeks dolar AS tercatat melemah 0,13% ke level 97,71. Pelemahan dolar ini turut memberikan ruang bagi penguatan mata uang emerging market, termasuk rupiah.
Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tidak lepas dari dinamika global dan faktor domestik. Sentimen pasar masih dipengaruhi perkembangan kebijakan perdagangan Amerika Serikat dan respons pemerintah Indonesia.
Sentimen Global dan Kebijakan Tarif AS
Pasar keuangan menyoroti langkah Presiden Prabowo Subianto yang menginstruksikan jajarannya untuk mengevaluasi implikasi putusan Mahkamah Agung Amerika Serikat yang menolak kebijakan tarif Presiden Donald Trump.
Sebelumnya, Indonesia dan Amerika Serikat telah menyepakati penurunan tarif bea masuk produk Indonesia dari 32% menjadi 19%. Namun, pasca putusan tersebut, Presiden Trump menyatakan akan memberlakukan tarif global baru sebesar 15%.
Kondisi ini memicu spekulasi di pasar. Sejumlah pelaku pasar berharap perjanjian dagang yang telah ditandatangani dapat ditinjau ulang, terutama karena tarif 19% dinilai masih relatif tinggi.
Ketidakpastian kebijakan perdagangan global membuat investor mencermati arah hubungan dagang kedua negara. Setiap perubahan kebijakan tarif berpotensi memengaruhi arus modal dan stabilitas kurs rupiah.
Peran Bank Indonesia Menjaga Stabilitas Rupiah
Dari sisi domestik, Bank Indonesia kembali menegaskan komitmennya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Otoritas moneter memastikan inflasi tetap berada dalam kisaran target APBN sambil memprioritaskan stabilitas mata uang.
Pembuat kebijakan menyebut rupiah saat ini masih berada pada level undervalued. Bank sentral juga menyatakan siap melakukan intervensi di pasar jika diperlukan, dengan dukungan cadangan devisa yang dinilai memadai.
Sejak September 2024, Bank Indonesia telah memangkas suku bunga sebesar 150 basis poin guna mendorong pertumbuhan ekonomi. Meski demikian, ruang pelonggaran lanjutan masih terbuka, dengan tetap mempertimbangkan stabilitas nilai tukar.
Langkah kebijakan likuiditas yang pro-pasar menjadi salah satu faktor penopang kepercayaan investor terhadap mata uang nasional.
Pergerakan Rupiah dalam Sebulan dan Setahun
Meski menguat pada perdagangan terakhir, secara bulanan nilai tukar rupiah masih mencatat pelemahan 0,47%. Dalam periode 12 bulan terakhir, rupiah terdepresiasi sekitar 3,06% terhadap dolar AS.
Data ini menunjukkan volatilitas masih membayangi pasar valuta asing. Pergerakan kurs sangat dipengaruhi sentimen global, suku bunga Amerika Serikat, serta dinamika geopolitik.
Menurut model makro global Trading Economics dan ekspektasi analis, rupiah diperkirakan berada di kisaran Rp16.831,67 pada akhir kuartal ini. Dalam 12 bulan ke depan, nilai tukar diproyeksikan bergerak ke sekitar Rp16.567,90 per dolar AS.
Proyeksi tersebut menggambarkan peluang penguatan jangka menengah, meskipun risiko eksternal tetap perlu diwaspadai.
Faktor yang Mempengaruhi Nilai Tukar Rupiah
Beberapa faktor utama yang memengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah antara lain:
- Kebijakan suku bunga Bank Indonesia
- Kebijakan moneter The Fed
- Perkembangan tarif perdagangan AS
- Arus modal asing di pasar obligasi dan saham
- Cadangan devisa nasional
- Stabilitas politik dan ekonomi domestik
Kombinasi faktor tersebut menentukan arah apresiasi atau depresiasi rupiah dalam jangka pendek maupun menengah.
Kesimpulan
Nilai tukar rupiah menguat ke Rp16.800 per dolar AS pada perdagangan Rabu (25/2/2026) setelah sebelumnya melemah. Penguatan ini dipicu pelemahan indeks dolar AS serta sentimen positif dari kebijakan domestik. Meski demikian, volatilitas masih membayangi pasar akibat ketidakpastian kebijakan tarif Amerika Serikat dan dinamika global. Stabilitas rupiah tetap bergantung pada respons kebijakan moneter dan perkembangan ekonomi internasional.
FAQ
Berapa posisi nilai tukar rupiah terbaru?
Rupiah ditutup menguat di level Rp16.800 per dolar AS pada perdagangan Rabu (25/2/2026).
Apa penyebab penguatan rupiah?
Penguatan dipengaruhi pelemahan indeks dolar AS dan sentimen kebijakan domestik.
Bagaimana pergerakan rupiah dalam setahun terakhir?
Dalam 12 bulan terakhir, rupiah terdepresiasi sekitar 3,06% terhadap dolar AS.
Apa proyeksi rupiah ke depan?
Analis memperkirakan rupiah berada di kisaran Rp16.831 pada akhir kuartal dan berpotensi menguat dalam 12 bulan ke depan.
Apakah Bank Indonesia akan melakukan intervensi?
Bank Indonesia menyatakan siap turun tangan jika diperlukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar.