-->

BEI Kantongi 7 Calon Emiten IPO 2026, Pasar Modal Siap Sambut Penghuni Baru

BEI kantongi 7 calon emiten IPO 2026 dengan mayoritas perusahaan beraset besar, sinyal kuat optimisme pasar modal Indonesia.

Unras.com – Jakarta - Pasar modal Indonesia bersiap menyambut babak baru pada awal 2026. Bursa Efek Indonesia (BEI) mengungkapkan telah mengantongi tujuh calon emiten IPO 2026 yang tengah masuk dalam antrean pencatatan saham perdana.

Optimisme tersebut menjadi sinyal positif bagi iklim investasi nasional, terutama di tengah upaya pemulihan ekonomi global dan penguatan pasar domestik. Mayoritas perusahaan yang masuk dalam pipeline BEI merupakan entitas dengan kekuatan finansial besar, sehingga diharapkan mampu memberi dampak signifikan bagi likuiditas dan kedalaman pasar.

Langkah ini sekaligus mempertegas peran pasar modal sebagai sumber pembiayaan jangka panjang yang strategis bagi dunia usaha. Tidak hanya lewat saham, aktivitas penerbitan obligasi dan sukuk serta rights issue juga menunjukkan geliat positif sejak awal tahun.

Sambut Penghuni Baru Pasar Modal, BEI Kantongi 7 Calon Emiten IPO 2026

Pasar modal Indonesia memasuki 2026 dengan optimisme tinggi. Bursa Efek Indonesia (BEI) melaporkan terdapat tujuh perusahaan yang saat ini berada dalam pipeline pencatatan saham perdana atau Initial Public Offering (IPO). Kehadiran calon emiten IPO 2026 ini diyakini akan memperkuat struktur pasar modal nasional sekaligus membuka peluang investasi baru bagi publik.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, mengatakan bahwa mayoritas perusahaan dalam antrean tersebut merupakan perusahaan dengan skala besar dan kekuatan finansial solid. Kondisi ini memberi sinyal bahwa perusahaan-perusahaan mapan semakin percaya diri memanfaatkan pasar modal sebagai sumber pendanaan jangka panjang.

“Hingga saat ini terdapat tujuh perusahaan dalam pipeline pencatatan saham BEI,” ujar Nyoman dalam keterangannya yang dikutip Minggu (18/1/2026). Menurutnya, komposisi calon emiten tahun ini relatif lebih kuat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kabar mengenai tujuh calon emiten IPO 2026 ini menjadi perhatian pelaku pasar karena mencerminkan keberlanjutan minat dunia usaha terhadap pasar saham, di tengah dinamika global yang masih penuh tantangan.

BEI Ungkap Komposisi Calon Emiten IPO 2026

Berdasarkan klasifikasi aset, perusahaan yang siap melantai di bursa terbagi dalam tiga kelompok utama. Kategori ini mencerminkan skala bisnis dan kapasitas keuangan masing-masing calon emiten.

Mayoritas Perusahaan Skala Besar

Dari tujuh perusahaan dalam antrean, sebanyak lima perusahaan masuk kategori skala besar dengan nilai aset di atas Rp250 miliar. Perusahaan-perusahaan ini umumnya telah memiliki model bisnis matang, rekam jejak kinerja yang stabil, serta prospek pertumbuhan yang dinilai menjanjikan oleh investor.

Keberadaan calon emiten skala besar ini dinilai akan meningkatkan daya tarik pasar modal Indonesia di mata investor institusi, baik domestik maupun asing. Emiten besar cenderung membawa kapitalisasi pasar yang signifikan, sehingga berdampak langsung pada likuiditas perdagangan.

Emiten Skala Menengah dan Kecil Tetap Hadir

Selain lima perusahaan besar, terdapat satu perusahaan skala menengah dengan aset antara Rp50 miliar hingga Rp250 miliar, serta satu perusahaan skala kecil dengan aset di bawah Rp50 miliar. Meski jumlahnya lebih sedikit, keberadaan emiten menengah dan kecil tetap penting dalam memperkaya variasi sektor dan pilihan investasi di bursa.

Kehadiran perusahaan dari berbagai skala ini menunjukkan bahwa pasar modal Indonesia tetap inklusif, memberi ruang bagi perusahaan berkembang untuk naik kelas melalui pendanaan publik.

IPO 2026 Jadi Sinyal Optimisme Dunia Usaha

Masuknya tujuh calon emiten IPO 2026 ke dalam pipeline BEI dinilai sebagai indikator positif bagi iklim usaha nasional. Hal ini mencerminkan kepercayaan pelaku bisnis terhadap stabilitas ekonomi domestik serta efektivitas regulasi pasar modal.

Meski hingga pertengahan Januari 2026 belum ada perusahaan yang resmi mencatatkan saham perdana, BEI menilai proses persiapan yang tengah berlangsung menunjukkan keseriusan para calon emiten. Tahapan IPO, mulai dari due diligence, penyusunan prospektus, hingga perizinan regulator, memang membutuhkan waktu yang tidak singkat.

Pelaku pasar menilai, awal tahun kerap menjadi periode konsolidasi sebelum lonjakan aktivitas IPO terjadi pada kuartal kedua dan ketiga. Dengan pipeline yang sudah terisi sejak awal tahun, potensi terjadinya gelombang IPO 2026 terbuka lebar.

Lebih jauh, keberhasilan IPO juga tidak hanya berdampak pada perusahaan yang melantai di bursa, tetapi turut mendorong pendalaman pasar modal, meningkatkan partisipasi investor ritel, serta memperkuat peran bursa sebagai sumber pembiayaan pembangunan.

Aktivitas Surat Utang Lebih Dulu Melaju

Di tengah belum adanya pencatatan saham perdana hingga pertengahan Januari 2026, aktivitas pasar surat utang justru bergerak lebih cepat. BEI mencatat penerbitan sembilan emisi dari tujuh penerbit Efek Bersifat Utang dan Sukuk (EBUS) dengan total penghimpunan dana mencapai Rp5,85 triliun.

Capaian ini menunjukkan bahwa instrumen pendanaan non-ekuitas masih menjadi pilihan utama bagi sejumlah perusahaan untuk memenuhi kebutuhan ekspansi dan restrukturisasi keuangan. Obligasi dan sukuk menawarkan fleksibilitas pendanaan tanpa harus melepas kepemilikan saham.

Selain itu, masih terdapat 10 emisi EBUS dari lima perusahaan yang masuk dalam daftar tunggu penerbitan. Dengan pipeline yang cukup panjang, aktivitas pasar surat utang diperkirakan tetap ramai sepanjang semester pertama 2026.

Tren positif di pasar obligasi ini dinilai saling melengkapi dengan rencana IPO, karena keduanya menunjukkan bahwa perusahaan tetap aktif mencari sumber pendanaan di pasar modal, baik melalui saham maupun instrumen utang.

Rights Issue Turut Menggeliat di Awal Tahun

Selain IPO dan obligasi, mekanisme penambahan modal melalui hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue juga terpantau aktif. Hingga pertengahan Januari 2026, tercatat tiga perusahaan telah menuntaskan rights issue dengan total perolehan dana mencapai Rp2,90 triliun.

Rights issue biasanya dilakukan oleh perusahaan terbuka yang membutuhkan tambahan modal untuk ekspansi usaha, pelunasan utang, atau penguatan struktur permodalan. Aktivitas ini mencerminkan bahwa emiten yang sudah tercatat di bursa tetap memanfaatkan pasar modal sebagai sarana pendanaan strategis.

BEI juga mencatat masih terdapat satu perusahaan dari sektor properti dan real estat yang sedang mengantre untuk melaksanakan rights issue. Sektor properti, yang sempat tertekan dalam beberapa tahun terakhir, kini mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan seiring membaiknya permintaan dan dukungan kebijakan pemerintah.

Dengan kombinasi IPO, obligasi, dan rights issue, pasar modal Indonesia memasuki 2026 dengan fondasi aktivitas yang relatif solid.

Dampak Positif Calon Emiten IPO 2026 bagi Pasar Modal

Masuknya tujuh calon emiten IPO 2026 ke dalam pipeline BEI diperkirakan membawa sejumlah dampak positif, baik bagi investor maupun perekonomian secara keseluruhan.

Meningkatkan Likuiditas dan Kapitalisasi Pasar

Perusahaan baru yang melantai di bursa akan menambah jumlah saham yang diperdagangkan, sehingga berpotensi meningkatkan likuiditas pasar. Jika mayoritas calon emiten berasal dari kategori skala besar, kapitalisasi pasar juga diproyeksikan ikut terdongkrak.

Likuiditas yang tinggi menjadi faktor penting bagi investor, karena memudahkan transaksi jual beli saham dengan biaya yang lebih efisien dan risiko volatilitas yang lebih rendah.

Memperluas Pilihan Investasi Publik

Kehadiran emiten baru membuka lebih banyak pilihan investasi bagi masyarakat. Investor dapat melakukan diversifikasi portofolio ke sektor atau model bisnis yang sebelumnya belum terwakili di bursa.

Dalam konteks literasi keuangan yang terus meningkat, bertambahnya emiten IPO 2026 diharapkan mendorong partisipasi investor ritel, terutama generasi muda yang mulai aktif berinvestasi di pasar saham.

Memperkuat Peran Pasar Modal sebagai Sumber Pembiayaan

IPO tidak hanya menguntungkan investor, tetapi juga memberikan alternatif pendanaan jangka panjang bagi perusahaan. Dengan menjadi perusahaan terbuka, emiten dapat mengakses modal publik untuk ekspansi usaha, inovasi produk, dan peningkatan daya saing.

Hal ini pada akhirnya berdampak positif bagi pertumbuhan ekonomi nasional, penciptaan lapangan kerja, serta peningkatan kontribusi sektor swasta terhadap pembangunan.

Tantangan dan Faktor Penentu Keberhasilan IPO 2026

Meski pipeline calon emiten IPO 2026 terlihat menjanjikan, terdapat sejumlah tantangan yang perlu diperhatikan. Salah satunya adalah kondisi pasar global yang masih dipengaruhi ketidakpastian geopolitik, fluktuasi suku bunga, serta dinamika inflasi.

Kondisi pasar saham domestik juga menjadi faktor penting dalam menentukan waktu dan valuasi IPO. Jika volatilitas pasar meningkat, perusahaan cenderung menunda rencana pencatatan saham untuk menghindari risiko valuasi yang tidak optimal.

Selain faktor eksternal, kesiapan internal perusahaan juga menjadi kunci. Calon emiten harus memastikan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance), transparansi laporan keuangan, serta prospek bisnis yang jelas dan berkelanjutan.

BEI bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus mendorong peningkatan kualitas calon emiten melalui berbagai program edukasi dan pendampingan, agar proses IPO dapat berjalan lancar dan memberikan manfaat maksimal bagi seluruh pemangku kepentingan.

Peran BEI dalam Mengawal Pipeline IPO

Sebagai penyelenggara pasar modal, BEI memiliki peran strategis dalam mengawal pipeline IPO 2026. Selain melakukan penilaian kelayakan perusahaan, BEI juga memastikan bahwa proses pencatatan saham dilakukan sesuai dengan prinsip keterbukaan, akuntabilitas, dan perlindungan investor.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, menegaskan bahwa pihaknya terus berkomitmen menjaga kualitas emiten yang masuk ke bursa. Menurutnya, bukan hanya kuantitas IPO yang menjadi target, tetapi juga kualitas perusahaan yang melantai di pasar modal.

BEI juga aktif melakukan sosialisasi kepada perusahaan potensial di berbagai daerah dan sektor industri, guna memperluas basis calon emiten. Langkah ini sejalan dengan upaya pemerintah untuk mendorong pemerataan ekonomi dan memperkuat peran pasar modal sebagai motor pembiayaan nasional.

Prospek Pasar Modal Indonesia di 2026

Dengan tujuh calon emiten IPO 2026 di pipeline, serta aktivitas obligasi dan rights issue yang terus bergulir, prospek pasar modal Indonesia di tahun ini dinilai cukup cerah. Investor domestik dan asing diperkirakan tetap memantau perkembangan ini sebagai indikator kepercayaan dunia usaha terhadap stabilitas ekonomi nasional.

Selain itu, dukungan kebijakan pemerintah dalam mendorong investasi, digitalisasi pasar modal, serta peningkatan literasi keuangan masyarakat turut menjadi faktor pendukung pertumbuhan bursa. Inovasi produk, seperti pengembangan instrumen berbasis syariah dan derivatif, juga diharapkan memperkaya ekosistem pasar modal.

Jika kondisi pasar kondusif, tidak menutup kemungkinan jumlah IPO sepanjang 2026 akan melampaui capaian tahun sebelumnya. Dengan pipeline yang sudah terbentuk sejak awal tahun, peluang tersebut semakin terbuka.

Kesimpulan

Masuknya tujuh calon emiten IPO 2026 ke dalam pipeline Bursa Efek Indonesia menjadi sinyal kuat optimisme pasar modal nasional. Mayoritas perusahaan yang bersiap melantai di bursa merupakan entitas dengan skala besar dan kekuatan finansial solid, sehingga berpotensi meningkatkan likuiditas, kapitalisasi pasar, dan pilihan investasi publik.

Di sisi lain, aktivitas penerbitan obligasi, sukuk, serta rights issue yang tetap ramai menunjukkan bahwa pasar modal Indonesia terus berfungsi sebagai sumber pembiayaan utama bagi dunia usaha. Meski tantangan global masih membayangi, kesiapan regulator, pelaku pasar, dan perusahaan diyakini mampu menjaga momentum pertumbuhan pasar modal sepanjang 2026.

Dengan fondasi tersebut, pasar saham Indonesia memasuki tahun baru dengan harapan besar, tidak hanya bagi investor, tetapi juga bagi perekonomian nasional secara keseluruhan.

FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)

1. Berapa jumlah calon emiten IPO 2026 yang masuk pipeline BEI?
BEI mencatat terdapat tujuh calon emiten IPO 2026 yang sedang dalam antrean pencatatan saham perdana.

2. Mayoritas calon emiten berasal dari kategori apa?
Sebagian besar berasal dari kategori perusahaan skala besar dengan aset di atas Rp250 miliar.

3. Apakah sudah ada perusahaan yang IPO hingga pertengahan Januari 2026?
Belum. Hingga pertengahan Januari 2026, belum ada perusahaan yang resmi mencatatkan saham perdana.

4. Bagaimana aktivitas pasar surat utang di awal 2026?
BEI mencatat sembilan emisi obligasi dan sukuk dari tujuh penerbit dengan total dana Rp5,85 triliun, serta masih ada 10 emisi dalam pipeline.

5. Apa dampak kehadiran calon emiten IPO 2026 bagi investor?
Investor akan memperoleh lebih banyak pilihan investasi, potensi likuiditas yang meningkat, serta kesempatan diversifikasi portofolio.