-->

3 Saham Pengolahan Limbah di Bursa Efek Indonesia 2026, Emiten dan Profil Usahanya

3 saham pengolahan limbah di Bursa Efek Indonesia 2026 yang jadi sorotan investor seiring proyek waste to energy dan transisi energi hijau.

 Unras.com – 3 saham pengolahan limbah di Bursa Efek Indonesia 2026 menjadi sorotan investor ritel dan institusi seiring meningkatnya perhatian pemerintah terhadap pengelolaan sampah dan transisi energi hijau nasional.

Sejumlah emiten yang bergerak di sektor pengolahan sampah dan limbah kini masuk radar pelaku pasar setelah pemerintah menggulirkan proyek waste to energy atau pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL). Program ini dipandang sebagai solusi strategis untuk mengurangi timbunan sampah sekaligus menambah pasokan energi bersih.

Melalui badan investasi Danantara, pemerintah berencana mengembangkan proyek PSEL di 33 titik di Indonesia dengan nilai investasi mencapai Rp91 triliun. Pendanaan proyek ini sebagian akan berasal dari Patriot Bonds yang dirancang untuk mendorong partisipasi publik dan swasta dalam pengelolaan lingkungan berkelanjutan.

Di tengah agenda besar tersebut, saham-saham pengolahan limbah di Bursa Efek Indonesia (BEI) pun ikut naik panggung. Emiten yang sebelumnya bergerak di ceruk bisnis lingkungan kini memperoleh sentimen positif karena dinilai memiliki peluang jangka panjang di tengah tuntutan ekonomi hijau dan target net zero emission nasional.

Artikel ini mengulas 3 saham pengolahan limbah di Bursa Efek Indonesia 2026, lengkap dengan profil usaha, fokus bisnis, hingga prospek sektoralnya. Dengan pendekatan jurnalistik populer, pembahasan disusun ringkas, jelas, dan relevan bagi investor pemula maupun berpengalaman.

Tren Saham Pengolahan Limbah di Bursa Efek Indonesia 2026

Sektor pengelolaan limbah selama ini dikenal sebagai bisnis pendukung industri dan layanan kesehatan. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, sektor ini mengalami pergeseran paradigma. Pengolahan sampah tak lagi hanya soal pembuangan, tetapi juga penciptaan nilai tambah melalui energi terbarukan, daur ulang, dan ekonomi sirkular.

Masuknya proyek waste to energy dalam agenda nasional membuat saham pengolahan limbah di Bursa Efek Indonesia semakin diperhatikan. Investor melihat adanya potensi pertumbuhan pendapatan berulang (recurring income) dari kontrak jangka panjang pengelolaan sampah daerah, rumah sakit, kawasan industri, hingga sektor manufaktur.

Selain itu, dorongan regulasi lingkungan yang makin ketat turut meningkatkan permintaan jasa pengelolaan limbah, khususnya limbah bahan berbahaya dan beracun (B3). Emiten yang telah memiliki izin resmi, fasilitas pengolahan terpadu, serta rekam jejak kepatuhan lingkungan dinilai lebih siap menangkap peluang ini.

Tidak semua emiten pengolahan sampah fokus pada pengembangan PSEL. Sebagian memilih tetap mengembangkan bisnis inti pengelolaan limbah medis, industri, dan domestik, namun tetap diuntungkan oleh sentimen positif terhadap sektor hijau dan berkelanjutan.

Berikut ini adalah 3 saham pengolahan limbah di Bursa Efek Indonesia 2026 yang menjalankan kegiatan usaha pengolahan dan pengelolaan sampah sebagai bisnis utama atau penunjang strategisnya.

1. PT Multi Hanna Kreasindo Tbk (MHKI)

PT Multi Hanna Kreasindo Tbk (MHKI) dikenal sebagai emiten yang murni bergerak di sektor pengolahan limbah, khususnya limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) serta limbah non-B3. Perusahaan ini tidak memiliki fasilitas waste to energy, namun fokus pada jasa pengolahan dan pemusnahan limbah berisiko tinggi yang dihasilkan sektor medis dan industri.

MHKI mengoperasikan tiga fasilitas utama, yakni instalasi pengolahan air limbah (IPAL), gedung peleburan, serta incinerator berteknologi tinggi untuk menangani limbah medis berbahaya. Dengan fasilitas ini, perseroan mampu memberikan layanan terpadu dari pengumpulan hingga pemusnahan akhir limbah.

Perusahaan ini telah mengantongi izin resmi dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) serta memiliki dokumen AMDAL sebagai prasyarat utama operasional. Hal ini menjadi nilai tambah di mata klien industri dan rumah sakit yang membutuhkan mitra pengelola limbah dengan standar kepatuhan tinggi.

Selain limbah medis, MHKI juga mengelola limbah logam, cairan kimia, dan residu industri lainnya. Dengan meningkatnya aktivitas manufaktur dan sektor kesehatan pascapandemi, permintaan terhadap jasa pengolahan limbah profesional diperkirakan terus tumbuh.

Dalam konteks saham pengolahan limbah di Bursa Efek Indonesia 2026, MHKI dipandang sebagai pemain defensif yang mengandalkan pendapatan berbasis kontrak dan kebutuhan rutin klien. Meski tidak terlibat langsung dalam proyek PSEL, perusahaan tetap memperoleh sentimen positif dari tren penguatan regulasi lingkungan dan peningkatan kesadaran korporasi terhadap ESG.

2. PT Mahareksa Biru Energi Tbk (OASA)

PT Mahareksa Biru Energi Tbk (OASA) merupakan emiten yang menggabungkan bisnis energi baru terbarukan dengan pengolahan sampah berbasis lingkungan. Perusahaan ini memiliki fasilitas waste to energy yang dapat mengonversi sampah menjadi energi termal melalui proses pembakaran, sejalan dengan konsep PSEL yang tengah didorong pemerintah.

Selain itu, OASA juga menjalankan bisnis biomassa melalui pengolahan wood pellet dan wood chip, yang ditujukan sebagai substitusi batu bara dalam pembangkit listrik. Model bisnis ini sejalan dengan kebijakan transisi energi nasional dan upaya menurunkan emisi karbon.

Di sektor pengelolaan limbah, OASA memiliki fasilitas pengolahan sampah perkotaan, limbah industri, limbah B3, hingga limbah medis. Perseroan juga mengembangkan sistem informasi digital untuk mendukung pendataan, pemantauan, dan pengelolaan limbah secara terintegrasi di fasilitasnya.

Keunggulan OASA terletak pada diversifikasi usaha yang mencakup energi terbarukan dan jasa lingkungan. Hal ini membuat perusahaan lebih adaptif terhadap perubahan kebijakan pemerintah dan dinamika pasar energi. Investor melihat OASA sebagai salah satu saham pengolahan limbah yang memiliki leverage tinggi terhadap proyek waste to energy nasional.

Dalam peta saham pengolahan limbah di Bursa Efek Indonesia 2026, OASA masuk kategori emiten dengan potensi pertumbuhan agresif karena keterlibatannya langsung dalam rantai nilai energi bersih dan ekonomi sirkular. Kombinasi antara bisnis pengelolaan sampah dan biomassa memberikan peluang ekspansi jangka panjang di tengah agenda transisi energi.

3. PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA)

PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) awalnya dikenal sebagai perusahaan energi berbasis pertambangan batu bara. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, perseroan melakukan diversifikasi agresif ke sektor energi baru terbarukan dan bisnis pengelolaan limbah.

Pada 2023, TOBA mengakuisisi Asia Medical Enviro Services (AMES) dan ARAH, dua perusahaan pengelola limbah berbahaya yang fokus pada limbah medis dan industri. Langkah ini menandai transformasi strategis TOBA menuju bisnis berkelanjutan yang berorientasi ESG.

Kemudian pada Maret 2025, TOBA kembali mengakuisisi Sembcorp Environment, perusahaan asal Singapura yang bergerak di bidang pengolahan dan pengelolaan sampah. Perusahaan ini kemudian direbranding menjadi CORA Environment pada September 2025, memperkuat portofolio bisnis hijau perseroan.

Dengan tiga entitas pengelolaan limbah tersebut—AMES, ARAH, dan CORA—TOBA kini memiliki lima fasilitas pemrosesan limbah di Indonesia dan Singapura. Sepanjang 2025, kapasitas pengolahan limbah perseroan tercatat mencapai sekitar 1 juta ton.

Transformasi ini membuat TOBA menjadi salah satu saham pengolahan limbah dengan skala operasi terbesar di kawasan regional. Investor memandang langkah diversifikasi TOBA sebagai strategi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan pada batu bara sekaligus menangkap peluang di sektor lingkungan dan energi bersih.

Dalam konteks saham pengolahan limbah di Bursa Efek Indonesia 2026, TOBA dinilai sebagai emiten hybrid yang menggabungkan legacy energy business dengan bisnis hijau modern, sehingga menawarkan profil risiko dan peluang yang relatif seimbang.

Dampak Proyek Waste to Energy terhadap Saham Pengolahan Limbah

Keberadaan proyek waste to energy yang diprakarsai Danantara menjadi katalis utama meningkatnya perhatian investor terhadap saham pengolahan limbah di Bursa Efek Indonesia. Proyek PSEL ini bertujuan mengurangi volume sampah nasional sekaligus menghasilkan listrik ramah lingkungan yang dapat menopang kebutuhan energi daerah.

Dengan rencana pengembangan di 33 titik dan nilai proyek mencapai Rp91 triliun, PSEL membuka peluang kerja sama antara pemerintah daerah, BUMN, dan sektor swasta. Emiten yang telah memiliki fasilitas pengolahan sampah, teknologi pembakaran, atau rekam jejak pengelolaan limbah dipandang memiliki peluang besar menjadi mitra strategis proyek tersebut.

Sentimen positif ini tidak hanya berdampak pada emiten yang terlibat langsung dalam waste to energy, tetapi juga pada perusahaan yang bergerak di pengolahan limbah medis, industri, dan domestik. Hal ini karena keberhasilan proyek PSEL diperkirakan akan mendorong peningkatan anggaran daerah untuk pengelolaan sampah dan lingkungan.

Selain itu, tren global menuju ekonomi hijau dan keberlanjutan turut memperkuat prospek sektor ini. Investor institusi kini semakin mempertimbangkan faktor ESG dalam keputusan investasi, sehingga saham pengolahan limbah menjadi alternatif menarik di tengah volatilitas sektor energi fosil.

Namun demikian, pelaku pasar tetap perlu mencermati risiko eksekusi proyek, kepastian regulasi, serta kesiapan infrastruktur daerah dalam mendukung implementasi waste to energy. Emiten dengan neraca keuangan sehat, teknologi matang, dan pengalaman operasional panjang cenderung lebih diunggulkan.

Prospek Sektor Pengelolaan Sampah dan Limbah di Indonesia

Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk besar menghadapi tantangan serius dalam pengelolaan sampah. Data nasional menunjukkan bahwa produksi sampah perkotaan terus meningkat seiring urbanisasi dan pertumbuhan ekonomi. Kondisi ini menciptakan kebutuhan mendesak akan solusi pengolahan limbah yang berkelanjutan dan terintegrasi.

Pemerintah mendorong penerapan ekonomi sirkular, di mana sampah tidak lagi dipandang sebagai limbah semata, tetapi sebagai sumber daya yang dapat diolah kembali menjadi energi, bahan baku, atau produk bernilai tambah. Dalam konteks ini, perusahaan pengolahan limbah memiliki peran strategis sebagai penghubung antara sektor publik, industri, dan masyarakat.

Di pasar modal, saham pengolahan limbah di Bursa Efek Indonesia mulai dilihat sebagai bagian dari sektor hijau yang memiliki prospek jangka panjang. Emiten di sektor ini cenderung memperoleh pendapatan berbasis kontrak jangka panjang dengan pemerintah daerah, rumah sakit, dan kawasan industri, sehingga relatif stabil dibanding sektor siklikal.

Selain itu, potensi sinergi dengan sektor energi terbarukan, infrastruktur, dan teknologi digital membuka ruang ekspansi baru. Perusahaan yang mampu mengintegrasikan layanan pengelolaan limbah dengan solusi energi bersih dan sistem informasi lingkungan diperkirakan akan menjadi pemenang dalam persaingan jangka panjang.

Meski demikian, tantangan tetap ada, mulai dari biaya investasi awal yang tinggi, kompleksitas perizinan, hingga resistensi sosial terhadap pembangunan fasilitas pengolahan sampah di beberapa daerah. Oleh karena itu, kinerja saham di sektor ini sangat bergantung pada kemampuan emiten dalam mengelola risiko dan menjaga kepercayaan publik.

Strategi Investor dalam Memilih Saham Pengolahan Limbah

Bagi investor ritel maupun institusi, memilih saham pengolahan limbah di Bursa Efek Indonesia membutuhkan pendekatan yang cermat dan berbasis data. Sektor ini memang menawarkan prospek jangka panjang, tetapi tetap memiliki risiko yang perlu dipertimbangkan.

Beberapa faktor yang dapat menjadi pertimbangan antara lain rekam jejak operasional perusahaan, kepatuhan terhadap regulasi lingkungan, struktur pendapatan, serta eksposur terhadap proyek waste to energy atau ekonomi sirkular. Emiten dengan diversifikasi usaha yang baik dan basis klien luas cenderung lebih tahan terhadap fluktuasi pasar.

Selain itu, investor juga perlu memperhatikan kualitas manajemen dan komitmen perusahaan terhadap prinsip ESG. Di era investasi berkelanjutan, perusahaan yang transparan dalam pelaporan lingkungan dan sosial cenderung lebih disukai pasar global.

Dari sisi valuasi, saham pengolahan limbah masih relatif terbatas jumlahnya di BEI, sehingga pergerakan harga dapat dipengaruhi sentimen dan likuiditas. Oleh karena itu, strategi investasi bertahap dan jangka menengah hingga panjang dinilai lebih sesuai untuk sektor ini dibandingkan perdagangan jangka pendek.

Dengan mempertimbangkan faktor-faktor tersebut, investor dapat memanfaatkan momentum proyek waste to energy dan transisi energi nasional sebagai katalis pertumbuhan saham pengelolaan sampah dan limbah.

Ringkasan Profil 3 Saham Pengolahan Limbah di Bursa Efek Indonesia 2026

Untuk memudahkan pemahaman, berikut gambaran singkat ketiga emiten yang menjadi sorotan dalam sektor ini:

  • PT Multi Hanna Kreasindo Tbk (MHKI)
    Fokus pada pengolahan limbah B3 dan non-B3, khususnya limbah medis dan industri. Model bisnis defensif berbasis kontrak.

  • PT Mahareksa Biru Energi Tbk (OASA)
    Menggabungkan bisnis waste to energy, biomassa, dan pengelolaan limbah lingkungan. Berorientasi pada energi terbarukan dan ekonomi sirkular.

  • PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA)
    Emiten energi yang bertransformasi ke sektor hijau melalui akuisisi perusahaan pengelola limbah regional. Memiliki skala operasi besar dan diversifikasi usaha.

Ketiganya menjadi representasi utama saham pengolahan limbah di Bursa Efek Indonesia 2026 yang patut dicermati investor di tengah agenda nasional pengelolaan sampah dan transisi energi.

Kesimpulan

Sektor pengelolaan limbah dan sampah di Indonesia tengah memasuki fase transformasi strategis seiring dorongan pemerintah terhadap ekonomi hijau, waste to energy, dan keberlanjutan lingkungan. Dalam konteks pasar modal, 3 saham pengolahan limbah di Bursa Efek Indonesia 2026—yakni MHKI, OASA, dan TOBA—menjadi sorotan karena keterlibatan langsung maupun tidak langsung dalam agenda tersebut.

MHKI tampil sebagai pemain murni di pengolahan limbah B3 dan medis dengan model bisnis defensif. OASA menggabungkan bisnis pengelolaan sampah dan energi terbarukan, sehingga memiliki potensi pertumbuhan agresif. Sementara TOBA memanfaatkan skala dan diversifikasi usaha untuk bertransformasi dari energi fosil menuju bisnis hijau berkelanjutan.

Dengan proyek waste to energy bernilai puluhan triliun rupiah dan meningkatnya kesadaran ESG di kalangan investor, saham pengolahan limbah berpotensi menjadi bagian penting dalam portofolio jangka panjang. Namun, investor tetap perlu melakukan analisis mendalam terhadap risiko, regulasi, dan fundamental masing-masing emiten sebelum mengambil keputusan investasi.

FAQ Saham Pengolahan Limbah di Bursa Efek Indonesia 2026 (Versi Tabel)

PertanyaanJawaban
Apa yang dimaksud saham pengolahan limbah di Bursa Efek Indonesia?Saham pengolahan limbah adalah saham emiten yang menjalankan bisnis pengelolaan sampah dan limbah, baik medis, industri, maupun domestik, termasuk waste to energy.
Mengapa sektor ini menarik pada 2026?Karena adanya proyek waste to energy nasional, peningkatan regulasi lingkungan, serta tren investasi ESG dan energi bersih.
Apa saja contoh saham pengolahan limbah di BEI?Contohnya PT Multi Hanna Kreasindo Tbk (MHKI), PT Mahareksa Biru Energi Tbk (OASA), dan PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA).
Apakah semua emiten limbah terlibat waste to energy?Tidak. Ada emiten yang fokus pada pengolahan limbah medis dan industri tanpa konversi energi, seperti MHKI.
Apa risiko utama investasi di sektor ini?Risiko regulasi, biaya investasi tinggi, tantangan sosial, serta ketergantungan pada proyek pemerintah dan kontrak jangka panjang.
Cocokkah saham pengelolaan sampah untuk investasi jangka panjang?Ya, karena sektor ini memiliki potensi pertumbuhan seiring meningkatnya kebutuhan pengelolaan lingkungan dan energi bersih.