Mata Uang Asia Bergerak Beragam, Rupiah Melemah 0,11%

Unras.com - Jakarta, mata uang Asia bergerak beragam terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan awal pekan, Senin (7/9/2026). Dari 10 mata uang yang dipantau, empat mata uang menguat dan enam lainnya melemah.
Merujuk data Refinitiv pada pukul 09.15 WIB, dolar Taiwan mencatat penguatan paling tajam di kawasan. Mata uang tersebut naik 0,09% ke posisi TWD 31,592 per dolar AS.
Di sisi lain, rupiah ikut tertekan bersama sejumlah mata uang Asia lainnya. Rupiah melemah 0,11% ke posisi Rp17.659 per dolar AS, setelah peso Filipina dan baht Thailand mencatat pelemahan yang lebih besar.
Pergerakan Mata Uang Asia pada Awal Pekan
Yen Jepang dan won Korea Selatan sama-sama menguat 0,04%. Yen berada di posisi JPY 156,15 per dolar AS, sedangkan won Korea Selatan bergerak ke KRW 1.343,67 per dolar AS.
Dong Vietnam juga mencatat penguatan tipis sebesar 0,01% ke VND 26.052 per dolar AS. Dengan demikian, empat mata uang yang menguat berasal dari Taiwan, Jepang, Korea Selatan, dan Vietnam.
Sementara itu, peso Filipina menjadi mata uang dengan tekanan paling besar. Peso melemah 0,25% ke posisi PHP 62,751 per dolar AS, kemudian baht Thailand turun 0,15% ke THB 32,93 per dolar AS.
- Ringgit Malaysia melemah 0,10% ke MYR 4,045 per dolar AS.
- Dolar Singapura turun 0,06% ke SGD 1,267 per dolar AS.
- Yuan China terkoreksi tipis 0,02% ke CNY 6,712 per dolar AS.
Dolar AS Masih Berada dalam Tekanan
Pergerakan mata uang Asia berlangsung di tengah pelemahan dolar AS. Indeks dolar AS atau DXY turun 0,02% ke posisi 99,153 pada waktu yang sama.
Dolar AS kembali menghadapi tekanan meskipun pasar meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga The Federal Reserve pada bulan ini. Pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan tersebut mencapai sekitar 57% berdasarkan CME FedWatch.
Ekspektasi itu menguat setelah data tenaga kerja AS menunjukkan hasil lebih baik daripada perkiraan. Ekonomi AS menambah 162.000 pekerjaan pada Agustus, sedangkan perkiraan sebelumnya hanya 56.000. Tingkat pengangguran bertahan di 4,1%.
Namun, penguatan dolar AS masih tertahan oleh kekhawatiran terhadap peningkatan utang AS, ketidakpastian kebijakan, serta perubahan sentimen terhadap yen Jepang.
Pasar Menanti Data Inflasi AS
Pelaku pasar kini mencermati rilis inflasi AS yang dijadwalkan berlangsung pada Jumat pekan ini. Data tersebut menjadi salah satu pertimbangan penting sebelum The Fed menggelar rapat kebijakan pada bulan ini.
“Data CPI yang panas hampir pasti akan mengunci kenaikan suku bunga September dan menopang dolar AS yang lebih kuat. Sebaliknya, angka yang lebih dingin akan memperkuat alasan untuk menahan suku bunga dan membuat dolar AS rentan terhadap penyesuaian ekspektasi The Fed yang lebih dovish,” ujar Elias Haddad, global head of markets strategy BBH, dikutip dari Reuters.
Meski begitu, kenaikan suku bunga The Fed belum tentu langsung mendorong dolar AS menguat tajam. Bank sentral utama lain juga diperkirakan mengambil kebijakan moneter yang lebih ketat.
Bank Sentral Eropa atau ECB diperkirakan hampir pasti menaikkan suku bunga menjadi 2,75% pada Kamis pekan ini. Selain itu, pasar memperhitungkan peluang 75% bahwa Bank of Japan atau BOJ menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan 18 September.
Ekspektasi tersebut ikut menopang yen Jepang. Mata uang Jepang menguat pada awal pekan setelah mencatat kenaikan tajam pada pekan sebelumnya. Yen sempat melonjak lebih dari 2% terhadap dolar AS.
Kesimpulan
Mata uang Asia bergerak tidak seragam pada awal pekan. Dolar Taiwan memimpin penguatan, sedangkan rupiah dan sejumlah mata uang kawasan melemah. Selanjutnya, perhatian pasar akan tertuju pada data inflasi AS dan keputusan bank sentral utama dunia.