Momentum Saham Ritel Jelang Ramadan-Lebaran 2026
Unras.com - Momentum saham ritel jelang Ramadan-Lebaran 2026 dinilai semakin solid seiring pemulihan kinerja penjualan dan membaiknya kepercayaan konsumen.
Kondisi ini membuka peluang bagi investor untuk mencermati sektor ritel sebagai strategi taktis menjelang periode konsumsi tertinggi tahunan.
Sejumlah riset terbaru menunjukkan adanya kombinasi sentimen positif dari sisi permintaan, biaya operasional, hingga valuasi saham yang semakin atraktif.
Momentum saham ritel jelang Ramadan-Lebaran kerap menjadi perhatian pasar modal Indonesia. Setiap tahun, peningkatan konsumsi masyarakat menjelang Idulfitri mendorong penjualan sektor makanan, fesyen, perlengkapan rumah tangga, hingga kebutuhan gaya hidup.
Memasuki 2026, situasi dinilai lebih menjanjikan dibanding tahun sebelumnya. Pemulihan aktivitas ekonomi sejak akhir 2025, ditambah stabilnya daya beli, membuat pelaku pasar menilai sektor ritel berpeluang mencatatkan kinerja lebih baik.
Laporan riset dari Indo Premier yang terbit 27 Januari 2026 memperkuat optimisme tersebut. Mereka mencatat adanya perbaikan momentum penjualan ritel secara bertahap sejak kuartal IV-2025, yang berlanjut hingga awal 2026.
Penjualan Ritel Mulai Menguat
Bank Indonesia (BI) melaporkan penjualan ritel pada kuartal IV-2025 tumbuh 5 persen secara tahunan, membaik dibandingkan kuartal III-2025 yang naik 4 persen. Peningkatan ini mencerminkan mulai pulihnya konsumsi masyarakat setelah sempat tertekan oleh berbagai faktor eksternal sepanjang 2025.
Indo Premier menambahkan, aktivitas toko ritel telah kembali normal setelah terdampak aksi demonstrasi pada Agustus 2025. Pemulihan ini sejalan dengan meningkatnya Consumer Confidence Index (CCI), yang mencerminkan optimisme konsumen terhadap kondisi ekonomi ke depan.
Memasuki kuartal I-2026, momentum penjualan ritel diperkirakan terus membaik secara kuartalan. Sentimen positif konsumen, stabilitas harga pangan, serta meningkatnya mobilitas masyarakat menjelang Ramadan dan Lebaran menjadi faktor pendorong utama.
Bagi investor, kondisi ini memperkuat narasi bahwa momentum saham ritel jelang Ramadan bukan sekadar musiman, tetapi juga ditopang perbaikan fundamental jangka pendek.
Baca Juga : Saham-Saham yang naik menjelang Ramadhan
SSSG Positif, Efek Basis Rendah Menguntungkan
Hasil diskusi Indo Premier dengan PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES) menunjukkan penjualan toko sejenis atau same store sales growth (SSSG) pada tiga pekan pertama Januari 2026 berada di kisaran satu digit rendah. Angka ini berbalik positif setelah Desember 2025 masih mencatat kontraksi.
Selain itu, sektor ritel juga diuntungkan oleh efek basis rendah (low base) pada kuartal I-2025. Rata-rata SSSG peritel yang berada dalam cakupan riset hanya 3,6 persen, jauh di bawah rata-rata Lebaran tiga tahun terakhir sebesar 8,1 persen.
Kondisi tersebut membuka ruang pertumbuhan SSSG yang lebih kuat pada kuartal I-2026. Indo Premier mencatat, PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) dan ACES masing-masing hanya membukukan SSSG 0,1 persen dan 2,2 persen pada kuartal I-2025, sehingga peluang rebound tahun ini dinilai cukup besar.
Dengan kombinasi pemulihan penjualan dan efek basis rendah, prospek momentum saham ritel jelang Ramadan-Lebaran 2026 terlihat semakin menarik.
Tekanan Biaya Mulai Mereda
Dari sisi biaya, rasio beban operasional terhadap penjualan pada sembilan bulan 2025 naik menjadi 23,7 persen, seiring lemahnya pertumbuhan penjualan. Namun, tekanan ini mulai menunjukkan tanda-tanda mereda pada awal 2026.
Peritel kini fokus meningkatkan produktivitas gerai melalui berbagai langkah efisiensi, seperti pembatasan perekrutan, sentralisasi pengadaan barang, serta konsolidasi operasi internasional. Strategi ini diharapkan mampu menjaga margin keuntungan di tengah persaingan yang semakin ketat.
Selain itu, kenaikan upah minimum nasional pada 2026 yang diperkirakan berada di kisaran 5–7 persen dinilai relatif moderat dan sejalan dengan kenaikan tahun sebelumnya. Biaya gaji sendiri menyumbang sekitar 11 persen dari total penjualan bersih peritel, sehingga stabilitas upah menjadi faktor penting dalam menjaga profitabilitas.
Indo Premier menghitung, setiap asumsi penurunan pertumbuhan upah sebesar 1 persen berpotensi meningkatkan laba bersih 2026 masing-masing 2,2 persen untuk AMRT, 1,6 persen untuk MAPI, dan 1,2 persen untuk ACES.
Valuasi Menarik, Minat Investor Stabil
Dari sisi valuasi, sektor ritel telah mengalami penurunan cukup dalam ke level 15,5 kali price to earnings (PE) 2026. Angka ini sekitar 1,4 standar deviasi di bawah rata-rata lima tahun, sehingga dinilai lebih atraktif dibandingkan periode sebelumnya.
Arus kepemilikan investor lokal maupun asing juga telah menyusut sejak awal 2025. Menurut Indo Premier, kondisi ini justru membatasi potensi penurunan harga saham lebih lanjut, karena tekanan jual sudah relatif mereda.
Meski demikian, Indo Premier menilai katalis pasca-Lebaran masih terbatas untuk mendorong pemulihan signifikan belanja diskresioner. Oleh karena itu, mereka mempertahankan rekomendasi netral untuk sektor ritel, dengan urutan preferensi saham MAPI, disusul AMRT, dan ACES.
Bagi investor, momentum saham ritel jelang Ramadan-Lebaran tetap menjadi peluang taktis yang patut dicermati, terutama dalam jangka pendek hingga menengah.
Kesimpulan
Momentum saham ritel jelang Ramadan-Lebaran 2026 menunjukkan prospek yang lebih cerah dibandingkan tahun sebelumnya. Pemulihan penjualan, membaiknya sentimen konsumen, efek basis rendah, serta valuasi yang semakin menarik menjadi kombinasi positif bagi sektor ini. Meski katalis pasca-Lebaran masih terbatas, saham ritel tetap relevan sebagai strategi investasi musiman dengan dukungan fundamental yang membaik.
FAQ
1. Mengapa momentum saham ritel jelang Ramadan penting bagi investor?
Karena periode Ramadan dan Lebaran biasanya mendorong lonjakan konsumsi, yang berdampak langsung pada kinerja penjualan perusahaan ritel.
2. Saham ritel apa yang paling direkomendasikan saat ini?
Menurut Indo Premier, saham dengan preferensi utama adalah MAPI, disusul AMRT dan ACES.
3. Apakah sektor ritel masih menarik setelah Lebaran?
Potensi pasca-Lebaran dinilai terbatas, namun valuasi yang rendah dapat menjadi penopang bagi investor jangka menengah.
4. Faktor apa yang mendukung pemulihan sektor ritel 2026?
Pemulihan kepercayaan konsumen, pertumbuhan penjualan yang membaik, efisiensi biaya, serta stabilnya kenaikan upah minimum.
5. Apakah momentum saham ritel bersifat musiman?
Sebagian bersifat musiman, namun pada 2026 momentum juga didukung perbaikan fundamental yang lebih luas.
