Rupiah Melemah Hampir Rp 17.000 per Dolar AS, BI Ungkap Penyebab dan Strategi Stabilisasi Nilai Tukar

Nilai tukar rupiah melemah mendekati Rp 17.000 per dolar AS, BI ungkap faktor global, arus modal asing, dan langkah stabilisasi.

Unras.com, Jakarta – Nilai tukar rupiah kembali melemah mendekati Rp 17.000 per dolar AS dalam beberapa hari terakhir. Bank Indonesia (BI) mengungkapkan bahwa tekanan pada kurs rupiah dipicu oleh faktor global dan domestik, termasuk arus modal asing keluar serta meningkatnya permintaan valuta asing oleh perbankan dan korporasi.

Pelemahan kurs rupiah menjadi sorotan pelaku pasar dan masyarakat karena berdampak langsung pada harga impor, biaya produksi, hingga daya beli. Situasi ini terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global yang memicu investor global menarik dananya dari negara berkembang.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menegaskan bahwa meski nilai tukar rupiah tertekan, fundamental ekonomi Indonesia masih terjaga. BI, kata dia, terus mengambil langkah stabilisasi agar pergerakan kurs tetap terkendali dan tidak menimbulkan gejolak yang berlebihan di pasar keuangan.

Tekanan Global Dorong Arus Modal Asing Keluar

Perry Warjiyo menjelaskan bahwa salah satu penyebab utama melemahnya nilai tukar rupiah adalah meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global. Kondisi tersebut membuat investor cenderung mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman, terutama dolar AS.

Hingga 19 Januari 2026, aliran modal asing keluar dari pasar keuangan Indonesia tercatat mencapai sekitar US$ 1,6 miliar. Arus keluar dana ini memberi tekanan langsung terhadap kurs rupiah karena meningkatnya permintaan dolar di pasar domestik.

Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga dialami oleh sejumlah negara berkembang lainnya. Penguatan dolar AS secara global turut mempersempit ruang pergerakan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Perry menyebut, dalam kondisi seperti ini, volatilitas nilai tukar cenderung meningkat. Karena itu, peran bank sentral menjadi krusial untuk menjaga stabilitas pasar dan mencegah kepanikan yang bisa memperburuk pelemahan kurs.

Permintaan Valas dari Korporasi Ikut Menekan Rupiah

Selain faktor global, pelemahan kurs rupiah juga dipengaruhi oleh meningkatnya kebutuhan valuta asing dari perbankan dan korporasi domestik. Seiring dengan meningkatnya aktivitas ekonomi, kebutuhan impor dan pembayaran kewajiban luar negeri ikut naik.

Beberapa badan usaha besar seperti Pertamina, PLN, serta Danantara disebut turut meningkatkan permintaan valas dalam periode ini. Kebutuhan dolar untuk pembelian energi, bahan baku, dan pembayaran utang luar negeri memberikan tambahan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

“Aliran modal asing keluar, juga ada kebutuhan valas yang besar dari sejumlah korporasi termasuk oleh Pertamina, PLN, maupun Danantara. Itu turut mempengaruhi kinerja rupiah,” ujar Perry dalam konferensi pers virtual, Rabu (21/1/2026).

Kondisi ini dinilai wajar dalam siklus ekonomi yang sedang bergerak aktif. Namun, bila tidak diimbangi dengan pasokan devisa yang memadai, tekanan terhadap kurs rupiah bisa berlangsung lebih lama.

Sentimen Domestik dan Persepsi Pasar terhadap Kebijakan

Faktor domestik juga disebut turut berperan dalam melemahnya nilai tukar rupiah. Perry menyebut adanya persepsi pasar terhadap kondisi fiskal serta proses pencalonan Deputi Gubernur BI sebagai salah satu sentimen yang diperhatikan investor.

Dari tiga nama calon yang diusulkan BI, salah satunya adalah Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono yang merupakan keponakan Presiden Prabowo Subianto. Proses ini menjadi perhatian pasar karena berkaitan dengan independensi dan kredibilitas kebijakan moneter.

Menurut Perry, proses pencalonan Deputi Gubernur BI telah berjalan sesuai dengan undang-undang dan tidak memengaruhi pelaksanaan tugas bank sentral. Ia menegaskan bahwa seluruh kebijakan tetap diambil secara profesional dengan tata kelola yang kuat.

“Proses pengambilan kebijakan di BI tetap kami pastikan dilakukan secara profesional dengan tata kelola yang kuat. Tentu saja bersinergi erat dengan kebijakan pemerintah untuk bersama menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” kata Perry.

Pernyataan ini disampaikan untuk menenangkan pasar agar tidak berlebihan dalam menilai faktor non-ekonomi sebagai risiko utama terhadap stabilitas moneter.

Posisi Kurs Rupiah dan Perbandingan dengan Akhir 2025

Bank Indonesia mencatat nilai tukar rupiah pada 20 Januari 2026 berada di level Rp 16.945 per dolar AS. Angka ini menunjukkan pelemahan sekitar 1,53 persen dibandingkan posisi akhir Desember 2025.

Meski belum menembus secara resmi angka Rp 17.000, pergerakan kurs yang mendekati level tersebut sudah cukup menimbulkan kekhawatiran di kalangan pelaku usaha dan masyarakat. Nilai tukar yang melemah berpotensi meningkatkan harga barang impor dan menekan sektor yang bergantung pada bahan baku luar negeri.

Namun, BI menilai bahwa pelemahan tersebut masih dalam batas yang dapat dikendalikan. Volatilitas dinilai tetap terjaga berkat langkah-langkah stabilisasi yang dilakukan di berbagai instrumen pasar keuangan.

Perry menekankan bahwa fokus utama BI adalah menjaga agar pergerakan kurs tetap sejalan dengan fundamental ekonomi, bukan sekadar mempertahankan angka tertentu di pasar valuta asing.

Upaya BI Menjaga Stabilitas Nilai Tukar Rupiah

Untuk meredam tekanan terhadap kurs rupiah, BI meningkatkan intensitas intervensi di berbagai pasar. Langkah ini dilakukan secara terukur agar tetap efektif tanpa mengganggu mekanisme pasar.

Upaya stabilisasi dilakukan melalui beberapa instrumen, antara lain:

  • Intervensi di pasar non-deliverable forward (NDF) baik offshore maupun onshore.
  • Operasi di pasar domestic non-deliverable forward (DNDF).
  • Intervensi langsung di pasar spot valuta asing.

Kebijakan ini bertujuan untuk menjaga volatilitas agar tetap terkendali sekaligus mendukung pencapaian sasaran inflasi 2026 di kisaran 2,5 persen plus minus 1 persen.

Respons kebijakan yang cepat dinilai penting untuk menjaga kepercayaan pasar. Dengan stabilitas yang terjaga, aktivitas ekonomi diharapkan tetap berjalan tanpa gangguan berarti dari sisi nilai tukar.

Proyeksi BI: Rupiah Berpeluang Stabil dan Menguat

Meski saat ini kurs rupiah tertekan, BI tetap optimistis terhadap prospek nilai tukar ke depan. Perry menyebut ada sejumlah faktor yang mendukung peluang stabilisasi bahkan penguatan rupiah.

Faktor tersebut antara lain imbal hasil aset keuangan Indonesia yang masih menarik bagi investor, tingkat inflasi yang relatif rendah, serta prospek pertumbuhan ekonomi yang dinilai tetap baik.

Kombinasi faktor tersebut diharapkan mampu menarik kembali arus modal asing masuk, sehingga pasokan devisa meningkat dan tekanan terhadap kurs dapat berkurang secara bertahap.

BI juga menegaskan komitmennya untuk terus berada di pasar guna memastikan pergerakan nilai tukar tetap sesuai dengan kondisi fundamental ekonomi nasional.

Dampak Pelemahan Rupiah bagi Masyarakat dan Dunia Usaha

Pelemahan kurs rupiah terhadap dolar AS memiliki dampak langsung dan tidak langsung bagi masyarakat. Harga barang impor, termasuk pangan tertentu dan produk elektronik, berpotensi mengalami penyesuaian harga.

Bagi dunia usaha, terutama sektor yang bergantung pada bahan baku impor, biaya produksi bisa meningkat. Hal ini dapat memengaruhi harga jual dan margin keuntungan perusahaan.

Namun di sisi lain, pelemahan rupiah juga bisa memberikan keuntungan bagi eksportir karena pendapatan dalam dolar akan lebih besar ketika dikonversi ke rupiah. Sektor ekspor tertentu berpotensi mendapatkan dorongan dari kondisi ini.

Pemerintah dan BI diharapkan terus berkoordinasi untuk memastikan dampak negatif pelemahan kurs dapat diminimalkan, terutama terhadap daya beli masyarakat.

Sinergi Kebijakan untuk Menjaga Stabilitas Ekonomi

BI menegaskan pentingnya sinergi antara kebijakan moneter dan fiskal dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional. Stabilitas nilai tukar tidak bisa hanya bergantung pada intervensi pasar, tetapi juga pada kepercayaan terhadap kebijakan pemerintah secara keseluruhan.

Perry menyebut bahwa koordinasi dengan pemerintah terus diperkuat, terutama dalam menjaga defisit fiskal, stabilitas harga, serta keberlanjutan pertumbuhan ekonomi.

Kepercayaan investor sangat dipengaruhi oleh konsistensi kebijakan. Oleh karena itu, komunikasi yang jelas dan transparan menjadi kunci untuk menjaga persepsi positif terhadap perekonomian Indonesia.

Dengan kombinasi kebijakan yang tepat, tekanan terhadap kurs rupiah diharapkan dapat dikelola tanpa menimbulkan risiko yang lebih besar terhadap stabilitas sistem keuangan.

Kesimpulan

Pelemahan nilai tukar rupiah yang mendekati Rp 17.000 per dolar AS dipengaruhi oleh kombinasi faktor global dan domestik. Arus modal asing keluar akibat ketidakpastian pasar keuangan global serta meningkatnya permintaan valas dari korporasi menjadi penyebab utama tekanan terhadap kurs.

Sentimen domestik terkait persepsi fiskal dan proses pencalonan pejabat BI juga ikut menjadi perhatian pasar, meski bank sentral menegaskan bahwa kebijakan tetap berjalan profesional dan independen. BI telah dan akan terus melakukan intervensi di pasar NDF, DNDF, dan spot untuk menjaga stabilitas.

Dengan inflasi yang terjaga, imbal hasil yang menarik, serta prospek pertumbuhan ekonomi yang masih positif, BI optimistis nilai tukar rupiah dapat kembali stabil dan berpeluang menguat seiring membaiknya sentimen pasar.

FAQ

Pertanyaan Jawaban
Mengapa nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar AS? Karena arus modal asing keluar akibat ketidakpastian global dan meningkatnya permintaan valas dari korporasi domestik.
Berapa posisi kurs rupiah terbaru menurut BI? Sekitar Rp 16.945 per dolar AS per 20 Januari 2026.
Apakah faktor domestik ikut memengaruhi pelemahan rupiah? Ya, persepsi pasar terhadap kondisi fiskal dan proses pencalonan pejabat BI turut menjadi sentimen.
Apa langkah BI untuk menstabilkan kurs rupiah? Intervensi di pasar NDF offshore dan onshore, DNDF, serta pasar spot valuta asing.
Apakah rupiah berpeluang menguat ke depan? BI optimistis rupiah dapat stabil dan cenderung menguat didukung inflasi rendah dan prospek ekonomi yang baik.
Apa dampak pelemahan rupiah bagi masyarakat? Harga barang impor bisa naik, namun eksportir bisa mendapat keuntungan dari kurs yang lebih tinggi.
Sekedar Berbagi Informasi seputar Kehidupan