IHSG Turun 4 Persen Pagi Ini, Saham Konglo Tertekan
Unras.com, Jakarta – IHSG turun 4 persen pagi ini pada perdagangan Senin (2/2/2026), seiring berlanjutnya tekanan jual pada saham-saham konglomerat besar yang membebani pergerakan indeks. Kondisi ini membuat pelaku pasar kembali waspada terhadap stabilitas pasar modal Indonesia di tengah sentimen global yang belum kondusif.
Pembukaan perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) langsung diwarnai pelemahan tajam. Investor terlihat memilih mengurangi eksposur pada saham-saham berkapitalisasi besar, terutama emiten yang memiliki struktur kepemilikan terkonsentrasi dan free float relatif kecil.
Tekanan jual juga diperparah oleh kekhawatiran terhadap sentimen eksternal, terutama setelah pengelola indeks global MSCI memberikan peringatan terkait isu investabilitas pasar saham Indonesia. Kondisi tersebut membuat sebagian investor asing memilih menunggu perkembangan lebih lanjut sebelum kembali masuk ke pasar.
Di sisi lain, otoritas pasar modal dan regulator terus menyampaikan komitmen untuk merespons kekhawatiran investor, terutama terkait transparansi kepemilikan dan peningkatan likuiditas saham. Namun, pada awal pekan ini, respons tersebut belum cukup menahan laju koreksi indeks.
IHSG Anjlok ke Level 7.957
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, hingga pukul 09.26 WIB, IHSG terkoreksi 4,47 persen ke level 7.957,30. Nilai transaksi mencapai Rp8,79 triliun dengan volume perdagangan 14,93 miliar saham.
Dari sisi pergerakan saham, hanya 64 saham yang menguat, sementara 632 saham melemah dan 262 saham lainnya stagnan. Kondisi ini menunjukkan tekanan jual yang merata di hampir seluruh sektor, terutama saham-saham big cap.
Pelemahan tajam ini memperpanjang tren koreksi yang sudah terjadi sejak pekan lalu, ketika IHSG sempat turun hingga 8 persen secara intraday dan memicu penghentian sementara perdagangan (trading halt) selama 30 menit pada Rabu (28/1) dan Kamis (29/1).
Saham Konglomerat Jadi Pemberat Utama
Sejumlah saham konglomerat raksasa tercatat memimpin daftar penurunan dan menjadi pemberat utama IHSG. Saham PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) milik Grup Bakrie-Salim memimpin pelemahan dengan penurunan 13,89 persen ke level Rp930 per saham.
Tekanan serupa dialami PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) yang terafiliasi Grup Sinarmas. Saham DSSA anjlok 13,51 persen ke posisi Rp85.550 per saham.
Dari Grup Barito milik Prajogo Pangestu, tekanan terlihat merata. Saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun 12,73 persen, PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) melemah 11,91 persen, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) terkoreksi 10 persen, dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) turun 7,04 persen.
Sementara itu, saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) milik Grup Salim tercatat anjlok 11,18 persen. Saham PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) yang terafiliasi kelompok Aguan-Salim juga melemah signifikan sebesar 9,41 persen.
Sentimen MSCI Masih Membayangi Pasar
Tekanan pasar muncul setelah MSCI menyatakan akan menunda perubahan indeks hingga regulator Indonesia menuntaskan isu kepemilikan saham yang dinilai terlalu terkonsentrasi. Dalam penilaiannya, MSCI menyoroti persoalan fundamental dari sisi investabilitas atau kelayakan investasi pasar saham Indonesia, terutama terkait rendahnya porsi free float.
Rendahnya saham yang tersedia untuk diperdagangkan dinilai membatasi likuiditas dan meningkatkan volatilitas harga saham, sehingga membuat investor global lebih berhati-hati dalam menempatkan dana di pasar domestik.
Situasi ini turut memicu kekhawatiran bahwa aliran dana asing ke pasar saham Indonesia berpotensi tertahan dalam jangka pendek, jika isu transparansi dan struktur kepemilikan belum menunjukkan perbaikan signifikan.
Respons OJK dan Regulator Pasar Modal
Merespons sorotan tersebut, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Self Regulatory Organization (SRO) menyiapkan sejumlah langkah strategis. Upaya tersebut meliputi penyampaian data kepemilikan saham emiten yang lebih rinci sesuai praktik internasional, hingga rencana penerbitan aturan free float minimum 15 persen bagi emiten baru maupun yang telah tercatat di bursa.
Selain itu, OJK juga melakukan sejumlah penyesuaian di jajaran pimpinan. Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar, Wakil Ketua Dewan Komisioner Mirza Adityaswara, serta Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Inarno Djajadi mundur dari jabatannya.
OJK kemudian menunjuk Friderica Widyasari Dewi sebagai Anggota Dewan Komisioner Pengganti Ketua dan Wakil Ketua Dewan Komisioner. Hasan Fawzi juga ditetapkan sebagai Anggota Dewan Komisioner Pengganti Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal. Penunjukan tersebut diputuskan dalam Rapat Dewan Komisioner OJK di Jakarta, Sabtu (31/1/2026), dan berlaku efektif pada hari yang sama.
Bursa Asia Lesu, Tekanan Global Berlanjut
Di kawasan regional, bursa saham Asia juga bergerak melemah mengikuti tekanan pada kontrak berjangka Wall Street. Sentimen negatif dipicu oleh gejolak harga perak global yang sempat jatuh hingga 5 persen, setelah sebelumnya terpuruk sekitar 30 persen.
Menurut Reuters, kejatuhan harga perak tersebut memaksa penutupan posisi berleverage yang sebelumnya terlalu ramai. Pasar juga menyoroti penghentian sementara perdagangan UBS SDIC silver futures fund di China sebagai salah satu pemicu tekanan lanjutan.
Harga minyak mentah ikut melemah hampir 3 persen setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan Iran tengah berbicara serius dengan Washington. Pernyataan itu dinilai berpotensi meredakan risiko geopolitik, namun justru menekan sektor energi.
Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang tercatat turun 0,7 persen. Bursa Korea Selatan melemah lebih dalam dengan indeks Kospi terkoreksi 2,51 persen, sementara Shanghai Composite turun 0,55 persen dan Hang Seng Hong Kong merosot 1,45 persen.
Kesimpulan
IHSG turun 4 persen pagi ini mencerminkan tekanan kuat di pasar saham Indonesia, terutama akibat aksi jual saham konglomerat dan sentimen negatif global. Sorotan MSCI terhadap isu investabilitas dan free float masih menjadi faktor utama yang membebani kepercayaan investor.
Meski regulator telah menyiapkan sejumlah langkah perbaikan, pasar masih membutuhkan waktu untuk melihat dampak nyata dari kebijakan tersebut. Dalam jangka pendek, volatilitas diperkirakan masih tinggi, seiring investor menunggu kepastian arah kebijakan dan stabilisasi pasar global.
FAQ
Apa penyebab utama IHSG turun 4 persen pagi ini?
Pelemahan IHSG dipicu oleh tekanan jual saham konglomerat dan sentimen negatif pasca peringatan MSCI terkait isu investabilitas pasar saham Indonesia.
Saham apa saja yang paling tertekan?
Beberapa saham yang mengalami penurunan tajam antara lain BRMS, DSSA, BRPT, CDIA, CUAN, BREN, AMMN, dan PANI.
Bagaimana respons regulator terhadap situasi ini?
OJK dan SRO menyiapkan langkah perbaikan, termasuk transparansi kepemilikan saham dan rencana aturan free float minimum 15 persen.
Apakah pelemahan IHSG dipengaruhi faktor global?
Ya, pelemahan bursa Asia, gejolak harga komoditas, serta sentimen dari pasar AS turut memperburuk kondisi pasar domestik.
Apa yang sebaiknya dilakukan investor saat IHSG melemah?
Investor disarankan tetap mencermati fundamental emiten, menjaga manajemen risiko, dan tidak terburu-buru mengambil keputusan di tengah volatilitas tinggi.
