
Unras.com - Jakarta, disiplin merealisasikan sinergi operasional menjadi kunci bagi PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk. (ULTJ) untuk mempertahankan margin laba setelah menuntaskan akuisisi 100% saham PT Frisian Flag Indonesia (FFI) senilai Rp14,6 triliun.
ULTJ menyelesaikan akuisisi tersebut melalui mekanisme inbreng dalam kemitraan strategis dengan Royal FrieslandCampina N.V. Transaksi ini menempatkan perusahaan dairy asal Belanda itu sebagai pengendali baru ULTJ dengan kepemilikan 28,95% hingga 30,81%.
Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta menilai penggabungan bisnis akan memperbesar skala dan portofolio ULTJ. Namun, langkah itu juga meningkatkan kompleksitas operasional serta kebutuhan promosi.
Efisiensi Menjadi Kunci Integrasi ULTJ dan FFI
Menurut Nafan, ULTJ perlu memusatkan integrasi pada efisiensi pengadaan bahan baku, optimalisasi utilisasi pabrik, konsolidasi jaringan logistik, dan pengelolaan bauran produk. Langkah tersebut penting agar pertumbuhan volume dapat menghasilkan manfaat skala ekonomi.
“Pertumbuhan volume harus diimbangi peningkatan efisiensi agar economies of scale tercermin pada margin. Kemampuan manajemen mengintegrasikan kedua bisnis tanpa memicu lonjakan biaya operasional menjadi penentu keberhasilan transaksi,” ujarnya, Minggu (20/9/2026).
Selain itu, investor perlu memantau kemampuan manajemen mengendalikan biaya setelah dua bisnis bergabung. Penambahan portofolio dapat memperkuat posisi pasar, tetapi kebutuhan promosi dan koordinasi operasional juga berpotensi menekan margin.
Valuasi dan Risiko Dilusi EPS
Dari sisi valuasi, investor perlu mencermati perhitungan proforma setelah penerbitan saham baru. Valuasi FFI mencapai 19 kali annualized P/E, sedangkan valuasi ULTJ berada di kisaran 10 kali P/E.
Perbedaan tersebut menciptakan premium yang harus perusahaan kompensasi melalui pertumbuhan laba. Sementara itu, skema inbreng berpotensi menekan laba per saham atau earnings per share (EPS) pemegang saham lama dalam jangka pendek.
Meski demikian, ULTJ tidak perlu menguras kas internal untuk membiayai pengambilalihan. Masuknya Royal FrieslandCampina juga membawa potensi dukungan teknologi, kapabilitas riset, dan jaringan pasar global.
“Investor perlu memonitor apakah pertumbuhan laba pasca akuisisi nantinya mampu tumbuh lebih cepat dibandingkan pertumbuhan jumlah saham beredar, sehingga potensi dilusi EPS dapat terkompensasi,” tutur Nafan.
Persaingan Industri Susu Makin Ketat
Dalam transaksi tersebut, ULTJ akan menerbitkan hingga 7,87 miliar saham baru dengan harga Rp2.150 per saham sebagai pembayaran pengambilalihan. Setelah akuisisi rampung, FrieslandCampina wajib menggelar penawaran tender wajib atau mandatory tender offer bagi pemegang saham publik ULTJ.
Penggabungan ULTJ dan FFI menyatukan dua kekuatan utama industri susu cair nasional. Berdasarkan data Marketac periode Januari–Maret 2026, Ultra Milk milik ULTJ memimpin pasar susu ultra high temperature (UHT) dengan pangsa 31,1%. Sementara itu, Frisian Flag menguasai 8,7%.
Dengan posisi tersebut, entitas gabungan berpotensi meningkatkan intensitas persaingan dengan emiten sejenis, termasuk PT Cisarua Mountain Dairy Tbk. (CMRY) dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP).
Kinerja ULTJ Menopang Rencana Integrasi
Rencana integrasi memperoleh dukungan dari kinerja finansial ULTJ yang solid. Sepanjang semester I/2026, penjualan perseroan tumbuh 34,6% secara tahunan menjadi Rp5,49 triliun.
Pada periode yang sama, laba bersih ULTJ meningkat 73,7% secara tahunan hingga mencapai Rp1,05 triliun. Kinerja tersebut menjadi modal awal bagi perseroan untuk mengejar pertumbuhan laba setelah akuisisi Frisian Flag.
Namun, hasil akhir transaksi tetap bergantung pada kemampuan ULTJ menjalankan sinergi tanpa meningkatkan beban operasional secara berlebihan. Investor juga perlu memperhatikan pertumbuhan laba, jumlah saham beredar, dan perkembangan margin setelah integrasi berjalan.
Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak pembaca membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan pembaca. Risiko kerugian maupun keuntungan menjadi tanggung jawab masing-masing investor.