Saham di Bawah Gocap Kian Aktif, Momentum Trading Jadi Sorotan

Editor Jaya Purnama
Waktu baca Menghitung...
Diterbitkan

Saham di Bawah Gocap Kian Aktif, Momentum Trading Jadi Sorotan

Unras.com - Jakarta, saham di bawah gocap mulai menarik perhatian pelaku pasar ketika tekanan jual menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Perubahan batas harga minimum perdagangan membuat saham yang sebelumnya tertahan di level Rp50 memiliki ruang bergerak lebih rendah sekaligus membuka peluang kenaikan dalam persentase yang lebih besar.

Pada perdagangan Senin (28/9/2026), IHSG anjlok 1,51% ke level 6.147,86. Namun, sejumlah saham di bawah Rp50 justru melesat hingga menyentuh batas Auto Rejection Atas (ARA).

Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa pasar mulai menyesuaikan diri dengan mekanisme harga baru. Meski demikian, kenaikan saham berharga rendah juga membawa risiko karena perubahan harga dapat berlangsung sangat cepat.

Saham di bawah gocap mencatat kenaikan tajam

PT Pelayaran Tamarin Samudra Tbk (TAMU) menjadi salah satu saham dengan kenaikan terbesar. Harga TAMU naik 34,62% atau 9 poin ke level Rp35 per saham.

Selain itu, PT Berlian Laju Tanker Tbk (BLTA) menguat 34,38% menjadi Rp43. PT Mitra International Resources Tbk (MIRA), PT Pan Brothers Tbk (PBRX), dan PT PP Property Tbk (PPRO) juga mencatat kenaikan masing-masing 33,33%.

Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, menilai perubahan batas bawah harga saham membuat emiten berharga rendah memiliki ruang pergerakan yang lebih fleksibel.

Namun, Elandry mengingatkan bahwa nominal harga yang rendah tidak otomatis menunjukkan valuasi yang murah. “Namun, harga nominal yang murah tidak otomatis berarti valuasinya murah,” kata Elandry kepada Kontan, Senin (28/9/2026).

Perubahan aturan mendorong minat momentum trading

Menurut Elandry, investor perlu memeriksa sejumlah aspek sebelum mengambil keputusan. Beberapa di antaranya mencakup pertumbuhan pendapatan dan laba, arus kas, posisi utang, prospek bisnis, aksi korporasi, serta valuasi emiten.

Selain itu, investor perlu mengonfirmasi pergerakan harga melalui volume transaksi dan keberlanjutan akumulasi. Kenaikan yang sangat cepat tanpa dukungan perubahan fundamental atau likuiditas memadai lebih mencerminkan momentum trading dengan volatilitas tinggi.

Praktisi pasar modal sekaligus Founder WH-Project, William Hartanto, menilai perubahan aturan harga minimum menjadi salah satu pemicu meningkatnya minat terhadap saham-saham berharga rendah.

Harga yang lebih rendah membuat kebutuhan modal untuk bertransaksi ikut mengecil. Di sisi lain, perubahan harga dalam nominal kecil dapat menghasilkan persentase keuntungan yang relatif besar.

“Pasar masih beradaptasi. Nanti akan ada waktunya saham-saham di bawah level gocap lebih diminati karena imbal hasil secara persentase bisa lebih besar,” ujar William.

Tekanan jual tetap membayangi saham berharga rendah

Minat terhadap saham di bawah gocap tidak berlangsung seragam. Sejumlah saham yang sebelumnya tertahan di level Rp50 justru mengalami tekanan jual setelah memiliki ruang bergerak lebih rendah.

PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO), misalnya, turun 14% menjadi Rp43. Saham PT MNC Tourism Indonesia Tbk (KPIG) dan PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) juga merosot masing-masing 14% ke level Rp43.

William menilai tekanan tersebut menunjukkan bahwa pasar masih berada dalam tahap penyesuaian terhadap mekanisme baru. Menurut dia, pergerakan saham berharga rendah tidak selalu mencerminkan perubahan fundamental perusahaan.

Elandry juga menilai penurunan GOTO hingga LPKR tidak serta-merta menunjukkan memburuknya fundamental perusahaan. Perubahan batas harga minimum justru memberi ruang bagi proses pembentukan harga atau price discovery ketika tekanan jual meningkat.

Dengan demikian, lonjakan saham di bawah gocap tidak semata-mata muncul karena harga sahamnya murah. Aturan baru membuka ruang volatilitas yang sebelumnya terbatas di level Rp50.

Kondisi itu membuat saham-saham tersebut lebih menarik bagi pelaku momentum trading. Namun, investor tetap perlu mencermati fundamental, likuiditas, volume transaksi, dan risiko perubahan harga yang tajam sebelum mengambil keputusan.

Jaya Purnama
Sekedar Berbagi Informasi seputar Kehidupan