UNRAS.COMBerita Terkini • Aktual • Terpercaya
POSTINGAN POPULER

Destry Calon Tunggal Gubernur BI, Stabilitas Rupiah Jadi Ujian

Ditulis oleh Jaya PurnamaDipublikasikan 11 Agustus 2026

JAKARTA, Unras.com - Destry calon tunggal Gubernur BI menghadapi tantangan besar jika nantinya resmi memimpin Bank Indonesia. Stabilitas rupiah menjadi salah satu pekerjaan utama yang akan menentukan arah kebijakan moneter ke depan.

Destry Calon Tunggal Gubernur BI, Stabilitas Rupiah Jadi Ujian

Destry Damayanti saat ini menjabat sebagai Deputi Gubernur Senior BI. Ia juga menjalankan tugas sebagai Pejabat Gubernur Sementara BI setelah Perry Warjiyo mengundurkan diri.

Pemerintah telah mengajukan Destry sebagai calon tunggal Gubernur BI kepada DPR. Jika mendapat persetujuan, Destry akan menghadapi kondisi ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian.

Destry Calon Tunggal Gubernur BI Hadapi Tantangan Rupiah

Chief Economist Permata Bank Josua Pardede menilai stabilitas nilai tukar akan menjadi perhatian penting bagi Destry. Menurut dia, kebijakan moneter perlu tetap mendukung pertumbuhan ekonomi tanpa mengabaikan tekanan terhadap rupiah.

Josua memperkirakan perubahan kebijakan BI di bawah kepemimpinan Destry tidak akan berlangsung secara drastis. Ia melihat peluang lebih besar bagi kesinambungan kebijakan yang selama ini telah berjalan.

Menurutnya, stabilitas rupiah kemungkinan tetap menjadi salah satu pertimbangan utama dalam menentukan arah suku bunga. Dengan demikian, BI diperkirakan akan berhati-hati dalam mengambil keputusan moneter.

“Berdasarkan materi yang tersedia, kami melihat kemungkinan terbesar adalah kesinambungan kebijakan, bukan perubahan arah yang drastis,” kata Josua dalam Virtual Media Briefing PIER Economic Review Kuartal II 2026, Senin, 10 Agustus 2026.

Josua memperkirakan BI-Rate akan bertahan di level 5,75 persen hingga akhir 2026. Suku bunga tersebut juga diperkirakan masih bertahan sepanjang 2027.

Ruang Penurunan Suku Bunga Masih Terbatas

Inflasi Indonesia pada Juli 2026 tercatat sebesar 2,88 persen. Angka tersebut sebenarnya memberikan ruang bagi bank sentral untuk mempertimbangkan kebijakan yang lebih longgar.

Namun, Josua menilai inflasi bukan satu-satunya faktor yang harus menjadi dasar keputusan. Tekanan terhadap rupiah dan kondisi eksternal masih perlu diperhitungkan secara serius.

Ia memperkirakan nilai tukar rupiah berada pada kisaran Rp17.800 hingga Rp18.000 per dolar AS pada akhir 2026. Pergerakan tersebut menjadi salah satu risiko yang harus diperhatikan BI.

Menurut Josua, penurunan BI-Rate akan lebih aman jika sejumlah kondisi sudah terpenuhi. Stabilitas rupiah menjadi salah satu indikator penting sebelum pelonggaran moneter dilakukan.

Beberapa faktor yang perlu diperhatikan antara lain:

  • Rupiah stabil secara berkelanjutan.
  • Arus modal asing mulai membaik.
  • Cadangan devisa tidak terus mengalami penurunan.
  • Tekanan suku bunga global mulai mereda.
  • Permintaan terhadap aset rupiah tetap terjaga.

Karena itu, BI tidak bisa hanya melihat perkembangan inflasi ketika menentukan arah suku bunga. Kondisi pasar keuangan global dan pergerakan modal juga memiliki pengaruh besar.

Tekanan Global dan Geopolitik Jadi Perhatian

Tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi sejumlah faktor eksternal. Ketidakpastian geopolitik, tingginya suku bunga global, serta volatilitas arus modal dapat memberikan tekanan terhadap mata uang domestik.

Selain itu, kondisi transaksi berjalan juga perlu mendapat perhatian. Perubahan permintaan terhadap valuta asing dapat memengaruhi pergerakan rupiah di pasar.

Josua menilai BI membutuhkan kombinasi kebijakan untuk menghadapi kondisi tersebut. Intervensi valuta asing dan pengelolaan likuiditas dapat digunakan bersama kebijakan suku bunga.

Pendekatan tersebut dinilai penting karena tekanan nilai tukar tidak selalu dapat diselesaikan hanya melalui perubahan BI-Rate. Kebijakan yang terlalu agresif juga dapat memberikan dampak terhadap pertumbuhan ekonomi.

Di sisi lain, BI harus menjaga daya tarik aset dalam rupiah. Jika imbal hasil aset domestik terlalu rendah dibandingkan instrumen global, arus modal dapat menghadapi tekanan.

Karena itu, keseimbangan antara stabilitas nilai tukar dan pertumbuhan ekonomi menjadi tantangan utama. Destry diperkirakan perlu menjaga keseimbangan tersebut melalui kebijakan yang terukur.

Penempatan SAL Pemerintah Perlu Diawasi

Tantangan kebijakan moneter juga berkaitan dengan kebijakan fiskal pemerintah. Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah penempatan saldo anggaran lebih atau SAL pemerintah di bank-bank milik negara.

Pemindahan dana pemerintah dari rekening di BI menuju perbankan akan meningkatkan likuiditas. Namun, kondisi tersebut tidak secara otomatis membuat rupiah mengalami tekanan.

Menurut Josua, risiko terhadap rupiah akan meningkat jika tambahan likuiditas tersebut berkembang terlalu cepat. Dampaknya dapat muncul melalui pertumbuhan kredit, peningkatan impor, atau kenaikan permintaan valuta asing.

Penurunan suku bunga rupiah yang terlalu jauh juga dapat mengurangi daya tarik aset domestik. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat memengaruhi arus modal dan nilai tukar.

Karena itu, penempatan SAL dinilai perlu dilakukan secara bertahap. Besaran dana yang ditempatkan juga perlu disesuaikan dengan kondisi likuiditas perbankan.

Selain itu, dana tersebut sebaiknya diarahkan ke sektor produktif. Dengan begitu, tambahan likuiditas tidak hanya menjadi dana murah bagi perbankan, tetapi dapat membantu mendorong kegiatan ekonomi.

Josua menegaskan bahwa SAL sendiri bukan ancaman langsung bagi rupiah. Risiko bergantung pada seberapa cepat dana tersebut berubah menjadi kredit, impor, dan permintaan valuta asing.

Independensi BI Menjadi Tantangan Berikutnya

Selain menjaga rupiah, Destry juga menghadapi tantangan untuk mempertahankan independensi Bank Indonesia. Ekonom INDEF sekaligus Direktur Center for Sharia Economic Development A. Hakam Naja menilai aspek tersebut sangat penting.

Menurut Hakam, BI harus tetap menjalankan fungsi sebagai lembaga negara yang independen. Independensi diperlukan untuk mempertahankan kepercayaan masyarakat dan pelaku ekonomi.

Koordinasi antara kebijakan fiskal dan moneter tetap dibutuhkan. Namun, koordinasi tersebut harus memiliki batas yang jelas agar kebijakan moneter tidak didominasi kepentingan fiskal.

Keputusan BI, menurut Hakam, perlu didasarkan pada pertimbangan profesional dan teknokratis. Kebijakan tersebut harus mampu menjaga stabilitas sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi.

Hal ini menjadi penting karena bank sentral memiliki peran strategis dalam menjaga inflasi, nilai tukar, dan stabilitas sistem keuangan. Kepercayaan pasar juga sangat dipengaruhi oleh konsistensi kebijakan BI.

Ujian Awal bagi Kepemimpinan Destry

Jika nantinya disetujui DPR, Destry akan memimpin BI dalam situasi ekonomi yang membutuhkan kehati-hatian. Stabilitas rupiah akan menjadi salah satu indikator penting dalam menilai efektivitas kebijakan moneter.

Sementara itu, pemerintah juga membutuhkan dukungan kebijakan yang dapat menjaga pertumbuhan ekonomi. Kondisi tersebut membuat BI perlu mencari titik keseimbangan antara stabilitas dan ekspansi ekonomi.

Tekanan eksternal juga kemungkinan masih menjadi faktor penting. Perubahan kebijakan bank sentral global dapat memengaruhi arus modal dan pergerakan nilai tukar Indonesia.

Karena itu, kesinambungan kebijakan menjadi pilihan yang dinilai cukup realistis. Namun, kesinambungan bukan berarti BI tidak perlu melakukan penyesuaian.

Jika kondisi ekonomi berubah, bank sentral tetap harus merespons melalui kebijakan yang tepat. Kecepatan dan ketepatan respons akan menjadi bagian penting dari tantangan Destry.

Dengan demikian, pencalonan Destry sebagai Gubernur BI membawa ekspektasi besar. Stabilitas rupiah, independensi bank sentral, pengelolaan likuiditas, dan koordinasi fiskal-moneter menjadi sejumlah isu yang akan berada di bawah perhatian publik.

Ke depan, pasar akan mencermati bagaimana Destry menerjemahkan kesinambungan kebijakan menjadi langkah konkret. Terutama ketika tekanan terhadap rupiah dan ketidakpastian ekonomi global masih menjadi tantangan bagi Indonesia.