Baterai Xiaomi SU7 Dibongkar, Ini Beda Sel BYD dan CATL
Unras.com, Jakarta - Baterai Xiaomi SU7 menjadi sorotan setelah salah satu selnya dibongkar dan dibandingkan dengan sel baterai buatan FinDreams, anak perusahaan BYD. Hasil pembongkaran memperlihatkan adanya perbedaan menarik meski kedua sel memiliki kapasitas yang sama.
Baterai Xiaomi SU7 Standard Edition diketahui menggunakan sel CATL Shenxing berjenis lithium iron phosphate (LFP). Sel tersebut memiliki kapasitas 186,7 Ah. Sementara itu, pembandingnya adalah sel FinDreams dengan kapasitas identik.
Perbandingan tersebut menunjukkan bahwa kapasitas yang sama tidak otomatis menghasilkan karakteristik sel yang sama. Bobot, kepadatan energi, serta desain internal dapat berbeda sesuai teknologi yang digunakan setiap produsen.
Baterai Xiaomi SU7 Gunakan Sel CATL Shenxing
Pembongkaran dilakukan terhadap sel CATL Shenxing LFP berkapasitas 186,7 Ah. Sel ini menjadi bagian dari sistem baterai Xiaomi SU7 Standard Edition.
Dalam pengukuran yang dilakukan, sel CATL memiliki bobot sekitar 3,4 kilogram. Angka tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan sel FinDreams dari BYD yang memiliki bobot sekitar 3,2 kilogram.
Perbedaan bobot menjadi menarik karena kedua sel memiliki kapasitas yang sama. Dengan kapasitas 186,7 Ah, seharusnya perbandingan tidak hanya dilihat dari kapasitas nominal.
Kepadatan energi juga menjadi faktor penting. Berdasarkan perhitungan dari sampel yang dibongkar, sel CATL menghasilkan kepadatan energi gravimetrik sekitar 175,7 Wh/kg.
Sementara itu, sel FinDreams mencapai sekitar 186,7 Wh/kg. Dengan demikian, sel CATL dalam pengujian tersebut memiliki kepadatan energi sekitar 6,3 persen lebih rendah.
Namun, angka tersebut perlu dipahami secara hati-hati. Pengukuran hanya berasal dari satu sampel sel yang dibongkar. Karena itu, hasilnya belum dapat dianggap sebagai gambaran seluruh produksi baterai CATL atau BYD.
Perbedaan Kepadatan Energi Sel CATL dan BYD
Selain berdasarkan bobot, perbandingan juga dilakukan berdasarkan volume. Hasil perhitungan menunjukkan adanya perbedaan antara kedua sel tersebut.
Sel CATL tercatat memiliki kepadatan energi volumetrik sekitar 369 Wh/L. Di sisi lain, sel FinDreams mencapai sekitar 389,8 Wh/L.
Artinya, sel FinDreams memiliki kepadatan energi berdasarkan volume yang lebih tinggi. Perbedaan tersebut memperlihatkan bagaimana dua produsen dapat menggunakan pendekatan berbeda untuk menghasilkan kapasitas serupa.
Namun, kepadatan energi sel bukan satu-satunya faktor yang menentukan performa mobil listrik. Sistem baterai kendaraan terdiri dari banyak komponen yang saling berkaitan.
Beberapa faktor penting antara lain:
- Kapasitas dan jenis sel baterai.
- Sistem pendinginan baterai.
- Battery Management System atau BMS.
- Susunan modul dan battery pack.
- Sistem perlindungan terhadap benturan.
- Strategi pengisian dan pengelolaan temperatur.
- Perangkat lunak yang mengatur penggunaan energi.
Karena itu, perbedaan hasil pengukuran sel tidak bisa langsung digunakan untuk menentukan baterai mana yang paling baik secara keseluruhan.
Konstruksi Internal Kedua Sel Berbeda
Pembongkaran juga memperlihatkan perbedaan konstruksi internal antara sel CATL dan FinDreams. CATL menggunakan desain dengan empat inti gulungan atau jelly roll.
Beberapa gulungan tersebut ditempatkan dalam satu rumah berbahan aluminium. Pendekatan ini berbeda dari struktur sel FinDreams yang memiliki bentuk memanjang seperti blade.
Sel FinDreams menggunakan metode laminated stacking. Dalam konstruksi tersebut, lapisan elektroda dan separator disusun secara bergantian.
Perbedaan metode produksi ini menunjukkan bahwa kapasitas baterai tidak hanya berkaitan dengan material kimia. Desain fisik dan metode penyusunan komponen juga memiliki peran penting.
Selain itu, pembongkaran sel CATL memperlihatkan penggunaan lapisan aluminium yang relatif tebal pada current collector positif. Separator yang digunakan juga memiliki lapisan komposit keramik dan polimer.
Karakteristik tersebut menunjukkan kompleksitas teknologi baterai kendaraan listrik modern. Produsen harus menyeimbangkan kapasitas, ukuran, bobot, efisiensi, ketahanan, serta aspek keselamatan.
Hasil Pembongkaran Tidak Mewakili Seluruh Baterai
Meski menarik, hasil pembongkaran baterai Xiaomi SU7 tersebut tidak boleh ditafsirkan sebagai pengujian resmi terhadap kualitas seluruh baterai CATL maupun BYD.
Pengujian dilakukan terhadap satu sel. Proses tersebut juga merupakan pembongkaran secara mandiri, bukan pengujian laboratorium bersertifikasi.
Karena itu, hasil pengukuran dapat menjadi informasi teknis yang menarik. Namun, data tersebut tetap membutuhkan pengujian lebih luas sebelum digunakan untuk membuat kesimpulan umum.
Selain itu, pembongkaran baterai lithium-ion memiliki risiko keselamatan. Material internal sel dapat mengalami reaksi berbahaya ketika rusak secara mekanis.
Dalam proses pembongkaran lanjutan, material internal yang sengaja dipisahkan dan dirusak bahkan dapat memicu kebakaran. Hal tersebut menunjukkan bahwa baterai kendaraan listrik tidak boleh dibongkar sembarangan.
Performa Mobil Listrik Tidak Hanya Ditentukan Sel
Perbandingan CATL dan FinDreams memperlihatkan satu hal penting. Kapasitas baterai yang sama belum tentu menghasilkan bobot dan kepadatan energi yang identik.
Namun, konsumen tidak seharusnya menilai mobil listrik hanya dari jenis sel yang digunakan. Performa kendaraan merupakan hasil kerja dari keseluruhan sistem.
Xiaomi SU7, misalnya, tidak hanya bergantung pada sel baterai. Sistem manajemen baterai, pendinginan, inverter, motor listrik, perangkat lunak, serta desain battery pack ikut menentukan karakter kendaraan.
Di sisi lain, faktor penggunaan juga berpengaruh. Pola pengisian, temperatur lingkungan, kecepatan berkendara, dan beban kendaraan dapat memengaruhi konsumsi energi.
Karena itu, informasi hasil pembongkaran sel sebaiknya menjadi bahan tambahan bagi konsumen. Data tersebut menarik untuk memahami teknologi baterai, tetapi tidak cukup untuk menentukan kualitas sebuah mobil listrik.
Pada akhirnya, perbedaan sel CATL dan FinDreams menunjukkan perkembangan teknologi baterai yang semakin beragam. Produsen memiliki pendekatan masing-masing dalam mengejar efisiensi dan kepadatan energi.
Bagi calon pembeli mobil listrik, memahami teknologi baterai tetap penting. Namun, keputusan sebaiknya mempertimbangkan keseluruhan kendaraan, termasuk garansi baterai, sistem keselamatan, layanan purnajual, efisiensi, serta kebutuhan penggunaan sehari-hari.
Dengan begitu, konsumen dapat menilai kendaraan secara lebih objektif. Kapasitas baterai tetap penting, tetapi bukan satu-satunya ukuran untuk menentukan kemampuan sebuah mobil listrik.
