Prediksi Kenaikan Suku Bunga BI 2026 demi Menjaga Rupiah
Unras.com, Jakarta - Prediksi kenaikan suku bunga BI 2026 menjadi perhatian pelaku pasar menjelang rapat kebijakan moneter Bank Indonesia pada pekan ini. Mayoritas ekonom memperkirakan bank sentral akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin untuk menjaga stabilitas rupiah.
Perkiraan tersebut muncul setelah nilai tukar rupiah terus mengalami tekanan dalam beberapa pekan terakhir. Pelemahan mata uang domestik dinilai cukup signifikan sehingga mendorong Bank Indonesia mengambil langkah kebijakan yang lebih ketat.
Selain itu, kenaikan suku bunga juga dipandang sebagai sinyal bahwa Bank Indonesia tetap berkomitmen menjaga kepercayaan investor. Langkah ini diharapkan mampu menahan arus keluar modal sekaligus menstabilkan pasar keuangan nasional.
Prediksi Kenaikan Suku Bunga BI 2026 Menguat
Berdasarkan jajak pendapat Reuters terhadap 29 ekonom pada 11 hingga 18 Mei, sebanyak 16 responden memprediksi Bank Indonesia akan menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,00 persen pada Rabu, 20 Mei 2026.
Jika prediksi tersebut terealisasi, maka suku bunga fasilitas simpanan overnight diperkirakan naik menjadi 4,00 persen. Sementara itu, fasilitas pinjaman overnight berpotensi meningkat menjadi 5,75 persen.
Prediksi kenaikan suku bunga BI 2026 didasarkan pada pelemahan rupiah yang mencapai sekitar 5 persen sejak meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran pada akhir Februari.
Meskipun Bank Indonesia secara rutin melakukan intervensi di pasar valuta asing, tekanan terhadap rupiah masih belum sepenuhnya mereda. Karena itu, opsi menaikkan suku bunga dinilai semakin relevan.
Pelemahan Rupiah Jadi Alasan Utama
Ekonom dari Economist Intelligence Unit, Tay Qi Hang, menilai depresiasi rupiah menjadi faktor utama di balik kemungkinan pengetatan kebijakan moneter.
Menurutnya, pelemahan mata uang nasional menunjukkan bahwa pasar belum sepenuhnya yakin terhadap langkah-langkah pemerintah dan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas rupiah.
Kepercayaan Investor Masih Terbatas
Qi Hang menjelaskan bahwa investor menilai berbagai kebijakan yang diterapkan sejauh ini belum cukup kuat untuk menahan tekanan di pasar keuangan.
Akibatnya, Bank Indonesia diperkirakan perlu mengambil langkah yang lebih tegas. Salah satunya adalah menaikkan suku bunga acuan agar daya tarik aset rupiah meningkat.
Selain itu, kebijakan tersebut juga dapat membantu meredam volatilitas dan menjaga ekspektasi inflasi tetap terkendali.
Sebagian Ekonom Prediksi BI Tahan Suku Bunga
Meski mayoritas tipis memprediksi kenaikan, hampir setengah ekonom yang disurvei justru memperkirakan Bank Indonesia akan mempertahankan suku bunga di level 4,75 persen.
Wakil Kepala Ekonom Pasar Berkembang di Capital Economics, Jason Tuvey, mengatakan BI tampaknya masih mengandalkan intervensi di pasar valuta asing.
Menurut Tuvey, bank sentral memang semakin khawatir terhadap pelemahan rupiah. Namun, untuk sementara waktu, intervensi dinilai masih menjadi instrumen utama sebelum menaikkan suku bunga.
Pandangan ini menunjukkan bahwa keputusan Bank Indonesia masih sangat bergantung pada kondisi pasar dan efektivitas langkah stabilisasi yang telah dijalankan.
Potensi Awal Siklus Pengetatan
Sejumlah ekonom menilai bahwa jika kenaikan suku bunga terjadi, langkah tersebut bisa menjadi awal dari siklus pengetatan moneter baru.
Ekonom senior ASEAN di OCBC Bank, Lavanya Venkateswaran, menyebut inflasi Indonesia masih relatif terkendali.
Karena itu, kenaikan suku bunga dapat dipandang sebagai langkah pre-emptive. Artinya, kebijakan dilakukan untuk mencegah risiko yang lebih besar di masa depan.
Meskipun begitu, ia tidak menutup kemungkinan adanya kenaikan lanjutan apabila tekanan terhadap rupiah terus berlanjut.
Proyeksi Suku Bunga BI Hingga Akhir Tahun
Prediksi kenaikan suku bunga BI 2026 juga tercermin dalam proyeksi jangka menengah. Dari 20 ekonom yang memberikan estimasi, median memperkirakan suku bunga acuan akan berada di level 5,00 persen hingga akhir tahun.
Namun, belum ada konsensus yang benar-benar kuat. Beberapa responden bahkan memilih tidak memberikan proyeksi akhir tahun karena ketidakpastian global masih tinggi.
Selain faktor geopolitik, arah kebijakan suku bunga di negara maju juga akan memengaruhi keputusan Bank Indonesia ke depan.
Bagi pelaku pasar, keputusan rapat Bank Indonesia pekan ini akan menjadi indikator penting mengenai strategi bank sentral dalam menjaga stabilitas rupiah dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
.webp)