Saham Konglomerat Menguat, Masih Jauh dari ATH Jelang FTSE dan MSCI

Saham konglomerat menguat seiring IHSG rebound, namun masih jauh dari ATH jelang keputusan FTSE dan MSCI.

Unras.com - Saham konglomerat menguat pada perdagangan Rabu (1/4/2026) seiring pemulihan sentimen global. Penguatan saham konglomerat ini terjadi setelah muncul sinyal deeskalasi konflik Timur Tengah yang mendorong minat risiko investor kembali meningkat.

Pergerakan positif ini turut mengangkat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang berhasil rebound signifikan. Setelah sempat melemah selama beberapa hari, IHSG akhirnya bangkit mengikuti tren penguatan bursa Asia.

Meski demikian, pelaku pasar masih bersikap hati-hati. Penguatan saham konglomerasi dinilai belum sepenuhnya solid karena masih bergantung pada perkembangan geopolitik dan keputusan penting dari lembaga indeks global dalam waktu dekat.

IHSG Rebound Didorong Sentimen Global

IHSG ditutup menguat 1,93 persen ke level 7.184,44. Kenaikan ini mengakhiri tren penurunan empat hari berturut-turut. Penguatan tersebut mencerminkan meningkatnya selera risiko (risk-on) di kalangan investor.

Sentimen utama datang dari ekspektasi meredanya konflik di Timur Tengah. Sinyal diplomatik dari Iran serta potensi penarikan pasukan Amerika Serikat menjadi katalis positif bagi pasar global.

Sejumlah analis menilai reli ini masih bersifat jangka pendek. Pasalnya, pasar masih menunggu kepastian berakhirnya konflik secara menyeluruh sebelum membangun tren naik yang lebih kuat.

Saham Grup Bakrie dan Barito Pimpin Kenaikan

Saham-saham konglomerat mencatat kenaikan signifikan, dipimpin oleh Grup Bakrie. Beberapa emiten bahkan melonjak dua digit dalam satu hari perdagangan.

PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) naik 17,27 persen ke Rp815. PT Darma Henwa Tbk (DEWA) melonjak 15,83 persen ke Rp505. Sementara itu, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menguat 10,19 persen ke Rp238.

Kenaikan juga terjadi pada PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) yang naik 9,62 persen ke Rp114, serta PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) yang menguat 6,85 persen ke Rp780. PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) turut bergerak positif.

Dari Grup Barito, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) naik 6,96 persen ke Rp1.460. PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) menguat 6,60 persen ke Rp1.130, dan PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) naik 6,21 persen ke Rp855.

Saham lainnya seperti PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Petrosea Tbk (PTRO) juga mencatat penguatan, meski PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) justru terkoreksi.

Emiten Konglomerasi Lain Ikut Bergerak

Penguatan tidak hanya terjadi pada dua grup besar. Sejumlah saham milik konglomerat lain juga ikut menghijau.

PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU) naik 6,70 persen ke Rp5.175. PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) serta PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) juga bergerak positif.

Dari Grup Salim, PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) dan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) mencatat kenaikan. Sementara itu, Grup Sinarmas melalui PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) turut menguat.

Saham milik Haji Isam seperti PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) naik 5,43 persen ke Rp2.040. PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) juga menguat 6,10 persen ke Rp2.260.

Selain itu, saham konsorsium Garibaldi “Boy” Thohir seperti PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) dan PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) juga menjadi perhatian investor.

Masih Jauh dari Level Tertinggi Sepanjang Masa

Meski mengalami kenaikan, mayoritas saham konglomerat masih jauh dari level tertinggi sepanjang masa (ATH). Hal ini menunjukkan pemulihan belum sepenuhnya terjadi.

BNBR tercatat masih sekitar 98,48 persen di bawah ATH. BUMI juga masih tertinggal 97,07 persen, sedangkan ENRG berada 86,48 persen di bawah puncaknya.

Saham lainnya seperti JARR dan PGUN masing-masing masih 78,75 persen dan 71,46 persen di bawah ATH. Dari Grup Barito, BRPT masih tertinggal 67,77 persen dari level tertinggi.

CUAN, RATU, dan PANI juga berada di kisaran 59–60 persen di bawah ATH. Sementara itu, AADI menjadi yang paling dekat dengan ATH, hanya sekitar 9,96 persen di bawah puncaknya.

Perlu dicatat, beberapa saham seperti BNBR, BUMI, dan ENRG mencapai ATH sebelum krisis finansial global 2008. Setelah itu, harga saham sempat anjlok akibat tekanan krisis dan restrukturisasi utang.

Menanti Keputusan FTSE dan MSCI

Pasar kini memasuki fase krusial menjelang pengumuman dari FTSE dan MSCI pada April hingga Mei 2026. Keputusan ini dinilai akan sangat memengaruhi arah pasar saham Indonesia.

Sebelumnya, pengumuman MSCI terkait investabilitas Indonesia sempat mengguncang pasar. Kekhawatiran akan potensi arus keluar dana asing membuat IHSG sempat turun sekitar 21 persen dari level tertinggi hingga akhir Maret 2026.

Regulator pasar modal seperti BEI, OJK, dan KSEI kini bergerak cepat. Mereka berupaya memastikan Indonesia tetap masuk kategori emerging market melalui berbagai reformasi pasar.

Upaya tersebut mencakup peningkatan transparansi kepemilikan saham, perbaikan likuiditas, hingga penyesuaian aturan free float. Targetnya, seluruh proposal dapat diselesaikan dalam waktu dekat.

Kesimpulan

Penguatan saham konglomerat menjadi sinyal positif bagi pasar, terutama setelah IHSG berhasil rebound. Namun, reli ini masih didorong sentimen jangka pendek dan belum mencerminkan pemulihan fundamental yang kuat.

Investor disarankan tetap mencermati perkembangan geopolitik serta keputusan FTSE dan MSCI. Kedua faktor ini akan menjadi penentu utama arah pasar dalam beberapa bulan ke depan.

FAQ

1. Mengapa saham konglomerat menguat?
Penguatan dipicu oleh membaiknya sentimen global, terutama akibat sinyal deeskalasi konflik Timur Tengah.

2. Apakah IHSG sudah pulih sepenuhnya?
Belum. Kenaikan IHSG masih bersifat sementara dan bergantung pada perkembangan global serta arus dana asing.

3. Kenapa saham masih jauh dari ATH?
Banyak saham pernah mencapai puncaknya sebelum krisis 2008 dan belum sepenuhnya pulih hingga saat ini.

4. Apa pengaruh FTSE dan MSCI?
Keputusan dari kedua lembaga ini dapat memengaruhi aliran dana asing ke pasar saham Indonesia.

5. Apa strategi investor saat ini?
Investor sebaiknya berhati-hati dan menunggu kepastian dari faktor global dan keputusan indeks sebelum mengambil keputusan besar.