Saham BBCA Tertekan Aksi Jual Asing, Begini Prospeknya

Saham BBCA tertekan aksi jual asing 2026, namun prospek Bank Central Asia dinilai tetap kuat dengan potensi dividen dan buyback.

Unras.com, Jakarta - Saham BBCA tertekan aksi jual asing sepanjang awal 2026. Emiten perbankan besar ini mencatat penurunan signifikan, namun prospek jangka menengah hingga panjang dinilai masih menarik oleh analis.

Saham PT Bank Central Asia Tbk menjadi sorotan pasar setelah mengalami tekanan cukup dalam sejak awal tahun. Saham bank swasta terbesar di Indonesia ini turun tajam seiring derasnya aksi jual investor asing di Bursa.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, hingga akhir Maret 2026, saham BBCA tercatat melemah 15,98 persen secara year to date (YtD) dan diperdagangkan di level Rp6.500 per saham. Penurunan ini memperpanjang tren negatif setelah sepanjang 2025 saham BBCA juga turun 13,40 persen.

Koreksi ini menjadi yang terdalam dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan, penurunan tahunan sebelumnya hanya terjadi pada 2008 saat krisis finansial global, ketika saham BBCA turun 8,75 persen. Kondisi ini menunjukkan tekanan pasar yang cukup kuat terhadap saham perbankan unggulan tersebut.

Aksi jual investor asing menjadi faktor utama. Sepanjang 2026, investor global membukukan net sell mencapai Rp20,59 triliun di saham BBCA. Angka ini menjadi yang terbesar di pasar saham Indonesia sejauh ini.

Prospek Kinerja BBCA Masih Stabil

Di tengah tekanan harga saham, fundamental BBCA dinilai tetap solid. Riset dari KB Valbury Sekuritas menyebutkan kinerja dua bulan pertama 2026 masih berada dalam jalur yang sesuai ekspektasi.

Laba bank-only BBCA tercatat mencapai Rp9,22 triliun hingga Februari 2026. Angka ini tumbuh 2,8 persen secara tahunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp8,97 triliun.

Meski pertumbuhan laba relatif terbatas, capaian tersebut dinilai masih inline dengan proyeksi awal tahun. Run rate kinerja bahkan mencapai sekitar 98,5 persen dari estimasi periode tersebut.

Secara keseluruhan, kinerja ini menunjukkan stabilitas operasional bank, meskipun belum mencerminkan akselerasi pertumbuhan yang signifikan.

Pertumbuhan Kredit dan Likuiditas Tetap Terjaga

Perlambatan pertumbuhan laba BBCA tidak lepas dari ekspansi kredit yang lebih moderat. Hingga Februari 2026, total kredit tumbuh 5,8 persen secara tahunan menjadi Rp953,22 triliun.

Analis menilai perlambatan ini lebih disebabkan oleh efek basis tinggi pada tahun sebelumnya, bukan karena melemahnya permintaan kredit secara struktural.

Di sisi lain, likuiditas BBCA tetap kuat. Dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 9,9 persen yoy menjadi Rp1.227,76 triliun. Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan CASA sebesar 13 persen dan giro yang melonjak 22,3 persen.

Net interest margin (NIM) tercatat sebesar 5,24 persen. Meski turun dibandingkan tahun lalu di level 5,75 persen, angka ini masih berada dalam kisaran target manajemen untuk 2026.

Pendapatan Non-Bunga Jadi Penopang

Salah satu faktor yang menopang kinerja BBCA adalah pertumbuhan pendapatan non-bunga. Pendapatan ini naik 13,2 persen secara tahunan, menjadi bantalan penting di tengah perlambatan kredit.

Selain itu, efisiensi juga terlihat dari penurunan provisi sebesar 18,8 persen yoy. Hal ini membantu menjaga profitabilitas bank tetap stabil di tengah ketidakpastian ekonomi.

Kualitas aset juga tetap solid dengan credit cost berada di level 0,31 persen, lebih baik dibandingkan 0,40 persen pada tahun sebelumnya.

Risiko Eksternal Masih Membayangi

Meski fundamental kuat, BBCA tetap menghadapi sejumlah risiko eksternal. Ketidakpastian ekonomi domestik, melemahnya konsumsi, serta perubahan outlook dari Moody's menjadi faktor yang perlu diperhatikan.

Selain itu, dinamika global seperti ketegangan geopolitik dan fluktuasi nilai tukar rupiah juga berpotensi menekan sentimen pasar terhadap saham perbankan.

Valuasi Menarik, Ada Potensi Katalis

Di tengah tekanan harga, valuasi saham BBCA justru dinilai semakin menarik. Saat ini, saham diperdagangkan di kisaran 2,6 kali price to book value (PBV), lebih rendah dari rata-rata historisnya.

KB Valbury mempertahankan rekomendasi beli (buy) dengan target harga Rp9.760 per saham. Target ini didasarkan pada metode valuasi yang mencerminkan fundamental kuat BBCA.

Beberapa katalis positif yang dapat mendorong saham ke depan antara lain:

  • Dividend yield yang menarik
  • Rencana buyback saham
  • Potensi pembagian dividen interim kuartalan pada 2026

Faktor-faktor ini dinilai mampu meningkatkan kepercayaan investor dalam jangka menengah.

Kesimpulan

Saham BBCA tertekan aksi jual asing dalam jangka pendek, namun fundamental perusahaan tetap kuat. Kinerja stabil, likuiditas solid, serta potensi katalis positif menjadikan saham ini masih menarik untuk dicermati investor. Meski demikian, risiko eksternal tetap perlu diwaspadai.

FAQ

1. Mengapa saham BBCA turun di 2026?
Penurunan dipicu aksi jual besar-besaran investor asing serta sentimen global dan domestik.

2. Apakah fundamental BBCA masih kuat?
Ya, kinerja keuangan tetap stabil dengan pertumbuhan laba, likuiditas kuat, dan kualitas aset terjaga.

3. Apakah saham BBCA masih layak dibeli?
Menurut analis, valuasi saat ini menarik dengan potensi kenaikan didukung dividen dan buyback.

4. Apa risiko utama saham BBCA ke depan?
Risiko berasal dari kondisi ekonomi, pelemahan konsumsi, nilai tukar, dan sentimen global.

5. Apa katalis positif untuk saham BBCA?
Dividen tinggi, buyback saham, dan kemungkinan dividen interim menjadi pendorong utama.