-->

Penjualan Mobil Bensin Mulai Tergerus, Mobil Listrik Makin Mendominasi Pasar Otomotif

Unras.com – Jakarta, Pasar otomotif Indonesia kini tengah bergeser dengan cepat. Mobil listrik yang dulunya dianggap mahal dan sulit dijangkau, kini semakin populer di kalangan masyarakat. Sementara itu, mobil bensin atau internal combustion engine (ICE) mulai kehilangan porsi penjualannya. 

Fenomena ini terjadi seiring dengan kebijakan insentif yang diberikan pemerintah untuk mempercepat adopsi kendaraan listrik. Harga yang lebih bersaing membuat mobil berbasis baterai mulai diterima konsumen, meski sebagian besar masih berstatus impor utuh atau Completely Built Up (CBU).

Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan Kemenperin, Mahardi Tunggul Wicaksono, menegaskan bahwa kenaikan populasi kendaraan listrik cukup signifikan sejak kebijakan tersebut berjalan. Data resmi menunjukkan lonjakan populasi kendaraan ramah lingkungan di Indonesia.

Berdasarkan catatan Kementerian Perhubungan per 24 Juni 2025, jumlah kendaraan listrik mencapai 274.802 unit, naik tajam dibanding tahun lalu yang hanya 207.478 unit. Dari angka tersebut, mobil penumpang mendominasi dengan lebih dari 77 ribu unit, disusul sepeda motor listrik lebih dari 15 ribu unit. Sektor kendaraan roda tiga dan komersial juga mencatatkan pertumbuhan meski masih terbatas.

Gaikindo mencatat merek BYD menjadi pemimpin penjualan dengan 16 ribu unit, disusul Denza 6 ribu unit, AION 3 ribu unit, hingga Geely dan Citroën yang juga ikut berkontribusi. Market share mobil listrik murni (BEV) pada pertengahan 2025 melonjak hampir dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya, sementara mobil bensin turun dari 88 persen ke 82 persen.

Tren ini menunjukkan perubahan besar dalam preferensi konsumen. Pada 2021, mobil bensin masih mendominasi hampir 100 persen pasar, sementara mobil listrik baru mencatatkan 0,08 persen. Kini, pangsa pasar kendaraan berbasis baterai sudah menembus 9,7 persen dan diprediksi terus meningkat.

Namun, sejumlah pihak menekankan pentingnya transisi dari impor menuju produksi lokal. Peneliti Senior LPEM UI, Riyanto, menyebut bahwa insentif sebaiknya diarahkan untuk mendorong investasi pabrik di dalam negeri. Tujuannya agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga pusat produksi mobil listrik global.

Perubahan lanskap otomotif ini menandai era baru transportasi di Indonesia. Jika tren terus berlanjut, mobil listrik bukan lagi sekadar pilihan alternatif, melainkan akan menjadi arus utama dalam industri kendaraan tanah air.

Anda mungkin menyukai postingan ini